WARTAMANDAILING.COM- Berbicara tentang kuliner di Kota Tebingtinggi tidak terlepas dari lemang. Hingga kini lemang masih melekat sebagai ikon makanan khas daerah. Namun, dari sekian banyak usaha kuliner yang berbahan baku beras pulut (ketan) dan santan kelapa itu, Lemang Singgalang yang paling tua, yang ternyata sudah ada sejak tahun 1958 lalu dan dijajakan di salah satu kios di Jalan KH Ahma Dahlan (Chong Afie), Kota Tebingtinggi.Hingga kini, generasi kedua dari produsen Lemang Singgalang, Rusmawi Tanjung (56) warga Jalan KF Tandean Gang Becek Kota Tebingtinggi,masih tetap bertahan memproduksi makanan khas kota itu.

Sebutan nama Lemang Singgalang sengaja dibuat oleh orangtua saya sesuai dengan nama Gunung Singgalang, yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Sampai saat ini namanya masih kita gunakan, ujar Rusmawi saat ditemui wartawan belum lama ini.

Dikisahkannya, ibunya Almarhumah Hj Siti Akmar Tanjung, yang disapa Nenek Haji, datang dari sebuah kampung kecil di Sumatera Barat 60 tahun lalu. Ia merantau ke Kota Tebingtinggi untuk mendirikan usaha mikro kecil industri lemang. Karena kegigihannya, Lemang Singgalang dibuat dengan ramuan khusus cita rasa nikmat, antara santan kelapa dengan beras ketan yang dipanggang menggunakan bambu hingga dikenal di penjuru negeri ini.

Karena kekhasan Lemang Singgalang ini lama kelamaan muncullah pedagang-pedagang lemang lainnya, maka pemerintah kota Tebingtinggi kala itu menjadikan lemang sebagai makanan khas. Maka tersebutlah julukan Kota Tebingtinggi enam puluh tahun silam, sebagai Kota Lemang, paparnya.

Seiring waktu berjalan serta perkembangan usaha yang terus meningkat, akhirnya Rusmawi berinisiatif membuka gerai baru di lokasi strategis di Jalan Prof HM Yamin, tepatnya di kawasan Kampung Keling, Kota Tebingtinggi.

Karena pelanggan Lemang Singgalang semangkin banyak, maka kami generasi kedua membuka gerai yang baru di Kampung Keling ini untuk memudahkan pembeli dengan lahan parkir yang luas, tidak seperti di Cong Afie yang sempit dan sulit parkir kendaraan, terang Rusmawi Tanjung.

Menurut Rusmawi, Lemang Singgalang dipanggang menggunakan bara dari kayu yang benar-benar tua. Memang tidak membutuhkan waktu lama untuk memanggangnya, sekitar 3 jam saja. Itu pun tergantung kondisi besar dan ketebalan bambu.

Untuk penyajian Lemang Singgalang ini, gerai kami juga menyediakan tambahan makanan sebagai pendamping lemang, yaitu lemang durian, lemang tapai, lemang sri kaya dan lemang rending. Karena Kota Tebingtinggi sebagai julukan Kota Lemang, Walikota Ir Umar Zunaidi Hasibuan atas prakarsanya bersama pedagang lemang lainnya pernah mendapat Rekor MURI saat perayaan hari jadi Kota Tebingtinggi ke pada tanggal 1 Juli 2013 dengan lemang paling banyak rasa, yaitu 96 rasa, jelasnya.

Disinggung mengapa hingga saat ini Lemang Singgalang masih terus bertahan ditengah-tengah persaingan pedagang lemang yang terus menjamur di kota itu, Rusmawi mengatakan karena Lemang Singgalang memilik arti sejarah bagi Kota Tebingtinggi.
Kota Tebingtinggi bisa dikenal ke penjuru negeri ini karena masakan jajajan kuliner lemangnya. Lemang identik dengan Kota Tebingtinggi, maka kita tetap harus bisa menjaga cita rasa Lemang Singgalang yang usianya mencapai enam puluh tahun lamanya, papar Rusmawi. (WM/ali yustono)