Makan Bergizi Gratis: Investasi Gizi Atau Untung Rugi Kebijakan?

Paket makanan bergizi gratis yang diterima siswa, fhoto : Tangkapan layar Fb Muktar Omta.
Paket makanan bergizi gratis yang diterima siswa, fhoto : Tangkapan layar Fb Muktar Omta.

WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Menjelang siang, suasana di sebuah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama tampak lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berbaris rapi menunggu pembagian makan siang. Senyum mereka mengembang saat kotak makanan dibagikan. Bagi sebagian siswa, inilah momen yang ditunggu—tambahan asupan di tengah kebutuhan yang tak selalu tercukupi di rumah.

Sejak diluncurkan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut-sebut sebagai investasi besar negara untuk membangun generasi sehat. Program ini dirancang untuk memastikan anak-anak sekolah memperoleh makanan bergizi, sekaligus menjadi langkah strategis menekan persoalan stunting.

Namun, di tengah pelaksanaannya, muncul perbincangan yang tak bisa diabaikan.

Hitung-hitungan Warganet

Di media sosial, sejumlah warganet mulai merinci isi paket makanan yang diterima siswa. Dalam salah satu unggahan, disebutkan perkiraan harga komponen menu:

Kurma 3 biji sekitar Rp2.000
Salak 1 buah sekitar Rp2.000
Bolu kukus sekitar Rp2.000

Susu kemasan kecil setara produk seperti Indomilk sekitar Rp3.000

Bacaan Lainnya

“Kalau ditotal nggak sampai Rp10 ribu itu, Pak,” tulis seorang warga Kecamatan Sinunukan, Senin (23/2/2026).

Pada unggahan lainnya, warganet dari Panyabungan menambahkan, “Bayangkan ini paket tiga hari yang jauh dari kata layak.”

Bahkan ada yang menyebutkan isi paket berbeda: satu bungkus roti tawar isi enam, tujuh butir kurma, dua kotak susu kemasan anak, serta dua buah jeruk.

Pernyataan-pernyataan tersebut memicu diskusi lebih luas. Jika benar satu paket diperuntukkan untuk beberapa hari, pertanyaan tentang kecukupan gizi dan kesesuaian anggaran pun mengemuka.

Transparansi dan Standar Gizi

Sebagian orang tua mengaku tetap bersyukur anak-anak mendapat tambahan makanan. Namun ada pula yang berharap kualitas dan variasi menu ditingkatkan agar benar-benar memenuhi prinsip gizi seimbang—bukan sekadar pembagian makanan simbolis.

Pertanyaan yang berkembang bukan hanya soal nominal rupiah, tetapi juga tentang transparansi dan pengawasan. Berapa sebenarnya alokasi anggaran per anak? Apakah angka tersebut mencakup biaya bahan baku saja, atau sudah termasuk distribusi, pengemasan, serta operasional lainnya? Dan yang terpenting, apakah komposisi menu sudah sesuai standar kebutuhan nutrisi anak usia sekolah?

Harapan di Tengah Evaluasi

Program sebesar MBG membawa harapan besar. Jika dijalankan secara konsisten dan tepat sasaran, ia bisa menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak dini. Namun, sebagaimana kebijakan publik lainnya, evaluasi terbuka menjadi bagian tak terpisahkan untuk memastikan manfaatnya benar-benar terasa.

Kemasan Program Makan Bergizi Gratis ke tangan penerima manfaat, fhoto: Tangkapan layar FB.

Di ruang kelas, anak-anak tetap menikmati apa yang tersedia hari itu. Tetapi di luar pagar sekolah, masyarakat terus menimbang: apakah ini benar-benar investasi gizi yang sepadan, atau kebijakan yang masih membutuhkan pembenahan serius?

Jawabannya akan ditentukan oleh konsistensi pengawasan, keterbukaan informasi, serta kesungguhan memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar sampai dalam bentuk gizi yang layak di piring anak-anak. (Has).

Contoh Gambar di HTML