Antara Peringatan dan Kenyataan: Bupati Tapsel Ungkap Akar Masalah Banjir Bandang

WARTAMANDAILING.COM, Tapanuli Selatan – Di balik lumpur yang menelan rumah dan tangis warga yang kehilangan keluarga, terselip sebuah kisah dari hulu, tentang hilangnya hutan yang menjadi penopang ekosistem. Ketika hutan itu runtuh, Tapanuli Selatan (Tapsel) pun ikut terseret dalam derasnya banjir bandang dan longsor yang melanda akhir November 2025 ini.

Bupati Gus Irawan Pasaribu tidak sekadar memantau reruntuhan saat tiba di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Sabtu (29/11/ 2025). Ia menyampaikan sebuah kenyataan pahit yang selama ini tersimpan: adanya penebangan hutan di hulu yang menyebabkan bencana besar ini.

“Ini ada penebangan hutan di hulu,” ujarnya dengan nada getir, menatap bukit yang kini tampak telanjang di kejauhan. “Dengan intensitas hujan yang sangat tinggi, semua menjadi tak terkendali.”

Gus Irawan mengungkapkan bahwa sejak Juli ia sudah menyurati Menteri Kehutanan, memohon agar penebangan dihentikan. Permohonan itu sempat ditindaklanjuti melalui edaran Dirjen Pengolahan Hutan Lestari yang menyetop izin penebangan.

Namun, hanya tiga bulan kemudian, izin itu kembali dikeluarkan. Seperti bom waktu yang menunggu untuk meledak, bencana pun terjadi di akhir November.

“Tanggal 14 November, saya sudah mengirim surat protes lagi. Kami sudah membayangkan risikonya. Ekosistem Batang Toru bukan sekadar hutan,” tegasnya.

Di sana terdapat satwa langka Pongo tapanuliensis yang hanya hidup di kawasan itu, serta proyek strategis nasional PLTA 510 MW yang berpotensi terdampak.

Bacaan Lainnya

Ucapan Gus Irawan bukan sekadar kritik. Ada nada peringatan dan kekecewaan yang mendalam. Ia seolah menggambarkan ironi: Tapsel yang selama ini menjaga harmoni alam justru terancam oleh kebijakan di luar daerahnya.

Bencana yang Lebih dari Sekadar Angka

Selasa (25/11/2025), hujan deras yang berlangsung sejak sehari sebelumnya berubah menjadi bencana besar. Air bah menghantam permukiman, membawa material pohon dan tanah dari hulu, memutus jalan, merusak jembatan, meratakan rumah, dan merenggut nyawa.

Dari 15 kecamatan, 13 terdampak. Hingga Sabtu (29/11/ 2025), korban jiwa mencapai 46 orang meninggal dunia, 50 orang hilang, puluhan luka-luka, dan sekitar 5.000 warga mengungsi. Infrastruktur rusak parah, listrik padam, akses transportasi terputus, dan fasilitas umum lumpuh.

Di tenda pengungsian, cerita pilu bergema: anak terpisah dari orang tua, warga yang selamat hanya dengan pakaian di badan, dan harapan yang samar untuk menemukan keluarga yang hilang.

Suara dari Hulu yang Terlambat Didengar

Bencana ini bukan hanya soal hujan ekstrem. Ini soal keputusan yang diambil dan dicabut, dari balik meja kantor. Surat peringatan yang datang sebelum bencana tidak cukup kuat menghentikan roda izin yang terus berputar.

Ketika hulu kehilangan pohon, penahan air pun hilang. Ketika alam kehilangan keseimbangannya, manusia pun kehilangan perlindungan terakhirnya.

Kini, suara dari Tapsel semakin lantang: hentikan izin yang merusak lingkungan, jangan ulangi kesalahan yang sama, dan dengarkan suara dari hulu sebelum bencana berikutnya datang. Tragedi ini lahir bukan hanya dari hujan, tetapi dari pengabaian yang seharusnya tidak pernah terjadi. (Nas/r)

Contoh Gambar di HTML

Pos terkait