Pasca Longsor, Akses Muara Soma–Banjar Malayu Mulai Terbuka 1,3 Kilometer

Alat berat excavator terus melakukan pembukaan akses jalan baru Desa Banjar Malayu, fhoto : Istimewa.
Alat berat excavator terus melakukan pembukaan akses jalan baru Desa Banjar Malayu, fhoto : Istimewa.

WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal — Akses jalan penghubung Muara Soma–Banjar Malayu yang sempat terputus akibat longsor kini mulai terbuka. Hingga saat ini, pembukaan dan perbaikan jalan telah mencapai sekitar 1,3 kilometer, meski pengerjaannya masih dilakukan secara bertahap dan belum sepenuhnya tembus.

Pantauan di lapangan menunjukkan alat berat masih bekerja membuka jalur baru. Proses pengerjaan terus diupayakan agar akses dapat segera digunakan kembali oleh masyarakat.

Warga setempat menyambut baik respons pemerintah yang dinilai cepat dalam membuka kembali akses jalan tersebut. Upaya ini dianggap sangat membantu mobilitas masyarakat, terutama untuk kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan yang sebelumnya terhambat akibat longsor.

“Walaupun belum tuntas, kami sudah sangat terbantu dengan diturunkannya alat berat. Setidaknya sebagian akses sudah mulai terbuka,” ujar salah seorang warga Banjar Malayu.

Kepala Desa Banjar Malayu, Imanuddin, menyampaikan bahwa perbaikan jalan saat ini baru mencapai sekitar 1,3 kilometer dari total panjang jalan yang diperkirakan sekitar 2,1 kilometer.

“Jika cuaca memungkinkan, kemungkinan minggu depan akses jalan utama sudah bisa tembus,” ujarnya melalui sambungan telepon, Jumat (2/1/2026).

Ia menjelaskan, perubahan jalur dilakukan karena adanya penolakan dari salah satu pemilik lahan pada rencana awal pembukaan jalan. Akibatnya, akses dialihkan melalui lahan milik keluarga Ritonga dan Raja.

Bacaan Lainnya

“Pembukaan jalan utama ini bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi kepentingan masyarakat Desa Banjar Malayu,” tegas Imanuddin.

Terkait penggunaan lahan, Pemerintah Desa Banjar Malayu bersama pemilik tanah telah mencapai kesepakatan. Surat pemanfaatan lahan akan ditandatangani setelah proses pembukaan dan pengerjaan jalan selesai.

“Surat dibuat belakangan karena kami belum mengetahui secara pasti panjang dan lebar jalan yang digunakan. Namun, kedua pemilik tanah sudah sepakat terkait ukuran jalan yang dibutuhkan,” tambahnya.

Diketahui, pangkal jalan yang dibuka alat berat berada di lahan milik Ritonga, sementara ujung jalan berada di lahan milik Raja.

Menanggapi isu adanya pengutipan dana dalam proses pembukaan jalan alternatif lain, Imanuddin menegaskan bahwa hal tersebut bukan merupakan pungutan wajib kepada masyarakat. Ia menjelaskan, sebelumnya Badan Permusyawaratan Desa (BPD) telah menggelar musyawarah desa untuk membahas pembukaan jalan alternatif sementara agar dapat dilalui kendaraan roda dua.

“Informasi soal adanya uang itu perlu diluruskan. Itu bukan kewajiban yang harus ditanggung oleh seluruh masyarakat. Bentuknya adalah bantuan swadaya untuk membuka jalan alternatif sementara,” jelasnya.

Ia menambahkan, swadaya tersebut bersifat sukarela dan merupakan hasil kesepakatan bersama warga sebagai upaya darurat sebelum alat berat dapat menuntaskan pembukaan jalan utama tersebut.

Masyarakat berharap perbaikan akses Muara Soma–Banjar Malayu dapat segera diselesaikan, mengingat jalur tersebut merupakan akses vital yang menunjang aktivitas harian warga.

Satu unit alat berat tampak melakukan pembukaan jalan baru untuk memulihkan akses transportasi warga.

Sebelumnya, akses jalan utama Muara Soma–Banjar Malayu putus total setelah longsor besar menerjang kawasan tersebut pada Kamis (4/12/2025) malam. Badan jalan yang berada di tebing setinggi puluhan meter amblas ke jurang, menyebabkan arus transportasi lumpuh total.

Longsor terjadi akibat curah hujan tinggi dalam beberapa minggu terakhir yang membuat kondisi tanah menjadi labil. Akibat kejadian itu, jalur tersebut sama sekali tidak dapat dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.

Putusnya akses jalan membuat ratusan warga di beberapa dusun Desa Banjar Malayu terisolasi dan kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Putusnya jalan membuat warga benar-benar kesulitan keluar desa. Tidak bisa ke pasar atau bekerja. Anak-anak juga sebagian tidak masuk sekolah karena akses terputus,” ungkap Amin, warga Banjar Malayu.

Terpisah, Imanuddin membenarkan kondisi tersebut dan menyebut pihaknya telah melaporkan kejadian longsor kepada pihak kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal.

“Panjang badan jalan yang amblas diperkirakan sekitar 150 meter. Sambil menunggu alat berat, warga sempat bergotong royong membuka jalan alternatif agar anak-anak bisa kembali berangkat ke sekolah,” katanya.

Warga berharap pemerintah terus bergerak cepat memulihkan akses Muara Soma–Banjar Malayu, mengingat jalur tersebut merupakan penghubung utama menuju pusat ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan. (Has)

Contoh Gambar di HTML