Mengais Pasir, Menjaga Hidup: Potret Pekerja Sungai Aek Pohon di Hari Tua

Seorang lelaki renta menunduk pelan mengayak pasir di pinggir sungai Aek Pohon, fhoto : Wartamandailing.
Seorang lelaki renta menunduk pelan mengayak pasir di pinggir sungai Aek Pohon, fhoto : Wartamandailing.

WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Di tepian Sungai Aek Pohon di kecamatan Panyabungan yang airnya terus mengalir tanpa mengenal usia, seorang lelaki renta menunduk pelan. Tangannya yang keriput menggenggam sekop sederhana, mengais pasir dari dasar dan pinggir sungai lalu memasukkannya ke dalam ayaan pasir. Setiap ayunan sekop bukan sekadar rutinitas kerja, melainkan upaya mempertahankan hidup di usia yang seharusnya diisi dengan istirahat.

Bagi para pekerja sungai ini, mengais pasir bukanlah pilihan ideal, melainkan jalan terakhir. Di hari tua, ketika tenaga tak lagi sekuat dulu dan peluang kerja semakin sempit, sungai menjadi tumpuan harapan. Pasir-pasir yang dikumpulkan kemudian dijual untuk kebutuhan pembangunan, dengan upah yang sering kali tak sebanding dengan risiko dan kelelahan yang mereka tanggung.

Punggung membungkuk, kaki terendam air berjam-jam, serta ancaman terpeleset di arus sungai menjadi teman sehari-hari. Namun, tak ada keluhan berlebihan yang keluar dari mulut mereka. “Selama masih bisa berdiri dan bekerja, kami bersyukur,” ujar seorang lelaki tua sambil mengusap keringat yang bercampur air sungai, Sabtu (24/1/2026).

Sebagian dari mereka dulunya adalah petani, buruh, atau pekerja serabutan. Ketika usia menua dan lahan tak lagi produktif, sungai menjadi ruang kerja yang terbuka tanpa syarat ijazah maupun batas umur. Di sanalah mereka menemukan cara untuk tetap bermartabat—menghidupi diri sendiri tanpa sepenuhnya bergantung pada orang lain.

Ironisnya, di tengah derasnya pembangunan dan kemajuan zaman, potret pekerja sungai di hari tua seakan luput dari perhatian. Mereka hadir sebagai bagian tak terpisahkan dari rantai ekonomi, namun jarang disebut dalam perbincangan kesejahteraan sosial. Pasir yang mereka kumpulkan menjelma rumah, jalan, dan bangunan megah, sementara kehidupan mereka sendiri tetap sederhana.

Senja perlahan turun. Bayangan tubuh-tubuh renta memanjang di permukaan air sungai. Ayaan pasir diangkat dengan sisa tenaga, lalu langkah-langkah pelan meninggalkan tepian. Esok hari, jika tubuh masih mengizinkan, mereka akan kembali.

Seorang pria tua pekerja sungai Aek Pohon sedang mengayak pasir.

Bacaan Lainnya

Mengais pasir, bagi mereka, bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah cara menjaga hidup, merawat harga diri, dan bertahan di hari tua—di tengah arus sungai dan arus zaman yang terus berjalan. (Has).

Contoh Gambar di HTML