Angan-angan Supir Padati: Antara Jalan Panjang dan Hidup yang Pas-pasan

WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Di balik derit roda padati yang perlahan menyusuri lintas timur Aek Pohon, Kecamatan Panyabungan, tersimpan kisah hidup seorang supir yang menggantungkan nasib pada kendaraan tua itu. Setiap hari, ia memacu padatinya dari pagi hingga senja, bukan demi mengejar keuntungan besar, melainkan sekadar memastikan dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga terpenuhi.

Padati, angkutan tradisional yang kini kian terpinggirkan oleh kendaraan bermotor, masih menjadi pilihan sebagian warga di kawasan pedesaan. Namun bagi para supirnya, keberadaan padati bukan sekadar alat transportasi, melainkan sumber penghidupan yang semakin berat dijalani. Penumpang yang tak menentu, ongkos yang minim, serta biaya perawatan yang kerap datang tanpa aba-aba membuat hidup mereka serba pas-pasan.

“Kadang sehari cuma dapat cukup untuk makan,” ujar seorang supir padati saat ditemui di Aek Pohon, Minggu (25/1/2026) sambil membersihkan debu yang menempel di kursi. Ia mengaku tetap bertahan karena tak memiliki pilihan pekerjaan lain. Usia yang tak lagi muda dan keterampilan yang terbatas membuatnya harus setia pada jalan yang telah digelutinya puluhan tahun.

Panjang jalan lintas timur Panyabungan yang dilalui saban hari seolah mencerminkan perjalanan hidupnya. Harapan akan penghasilan yang lebih baik kerap muncul, namun sering kali pupus oleh kenyataan. Meski demikian, angan-angan sederhana tetap dipelihara—anak bisa sekolah, keluarga tetap sehat, dan esok hari masih ada tarikan penumpang yang akan dibawa.

Di tengah arus modernisasi transportasi, keberadaan supir padati di Kecamatan Panyabungan kerap luput dari perhatian. Padahal, mereka adalah saksi hidup perubahan zaman yang tetap bertahan di jalur sunyi penghidupan. Dengan setir yang terus digenggam dan langkah yang tak pernah benar-benar berhenti, para supir padati melanjutkan perjalanan, meski hidup kerap berjalan tertatih. (Has)

Bacaan Lainnya
Contoh Gambar di HTML