WARTAMANDAILING.COM, Padangsidimpuan – Masyarakat dari 7 desa dan 2 kelurahan di Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua menggelar aksi gotong royong perbaikan saluran irigasi di Kelurahan Batunadua Julu, sebagai bentuk tanggapan atas minimnya respon dari pemerintah kota maupun provinsi selama hampir 4 tahun terakhir.
Kegiatan yang telah berjalan sejak 3 hari ini bahkan mendapatkan apresiasi langsung dari Gabungan Pergerakan Tapanuli (GAPERTA) yang turut meninjau lokasi.
Inisiatif kolaboratif ini merupakan hasil mufakat antara 7 kepala desa dan 2 lurah yang mewakili masyarakat masing-masing wilayah. Kekurangan air tidak hanya mengganggu persawahan, tetapi juga kebutuhan rumah ibadah, terutama menjelang bulan Ramadhan yang sudah menghitung hari.
Pada pantauan di lokasi, kaum ibu terlihat kompak melangsir batu dari aliran sungai untuk membangun baronjong di bagian irigasi yang rusak parah. Kerusakan tersebut disebabkan oleh longsoran yang berasal dari sampah yang menumpuk dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di sekitar lokasi.
“Seharusnya ada kebijakan dari pemerintah, hampir 4 tahun kami menunggu, tidak ada respon untuk memperbaiki irigasi ini. Apalagi hitungan hari kita sudah mau puasa,” ungkap salah seorang warga Desa Gunung Hasahatan.
Kepala Desa Baruas, Mukmin Harahap, menjelaskan bahwa gotong royong yang didukung oleh kontribusi dana masyarakat serta partisipasi dari desa dan kecamatan menjadi solusi paling tepat untuk segera menyelesaikan masalah. “Permintaan kami ini agar air bisa berjalan lancar. Kami sudah beberapa kali mengusulkan ke pemerintah kota agar bendungan dan irigasi ini segera diperbaiki,” ujarnya.
Menurut Mukmin, berbagai upaya telah dilakukan melalui musyawarah dengan pemerintah kota, namun karena desakan menjelang Ramadhan dan dampak ekonomi yang signifikan akibat kerusakan irigasi, akhirnya inisiatif gotong royong diambil bersama.
“Kami meminta TPA harus dipindahkan, dan perbaikan irigasi harus diselesaikan secepatnya, kalau bisa tahun ini dipermanenkan. Sudah hampir 4 tahun masyarakat menunggu, tidak ada tindakan konkret, hanya janji verbal saja,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Purwodadi, Erwin, yang menyatakan bahwa kondisi saluran irigasi yang rusak telah menyebabkan kegagalan panen berulang dan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
“Meskipun telah melalui komunikasi dengan camat hingga Walikota, respon dari pihak terkait tetap minim,” ungkap Erwin, yang berharap pemerintah kota dapat memberikan dukungan nyata setelah gotong royong ini.
GAPERTA Apresiasi
Setelah menyaksikan langsung keakraban dan kekompakan masyarakat, Ketua Bidang Program dan Kegiatan GAPERTA, Dedi Sahputra, menyampaikan apresiasi kepada media yang meliput.
“Meskipun inisiatif warga ini dalam keadaan terpaksa akibat respon pemerintah tak kunjung datang, kita sangat terharu melihat kekompakan warga ini,” ucapnya.
Dedi menilai tindakan warga bukan hanya sekadar perbaikan fisik, melainkan juga bentuk protes atau kritikan konstruktif terhadap pemerintah.
“Perihal ini seyogyanya menjadi kebijakan yang harus diprioritaskan pemerintah mengingat waktu yang sudah hampir 4 tahun warga terdampak, baik dari sisi ekonomi maupun kelancaran aktivitas masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengakui keseriusan warga dalam menangani masalah tersebut. “Saya salut dengan kekompakan warga ini, meski secara manual material yang digunakan diambil dari sungai dengan cara tangan ke tangan warga. Hal ini menandakan betapa mereka sangat menginginkan agar air ke desa mereka dapat mengalir lagi,” tutup Dedi.
Masyarakat mengajukan dua permintaan mendesak kepada pemerintah kota, yaitu pemindahan TPA dan perbaikan permanen saluran irigasi. (Nas)






