Musyawarah Pengurus Lembaga Adat Mandailing Bahas Penguatan Peran Adat

WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, para pengurus Lembaga Adat Mandailing kembali duduk bersila dalam sebuah musyawarah penuh makna. Pertemuan itu bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum memperkuat peran adat sebagai penuntun moral, penjaga identitas, sekaligus perekat sosial masyarakat Mandailing.

Musyawarah yang berlangsung khidmat tersebut menghadirkan para tokoh adat, hatobangon, alim ulama, hingga generasi muda. Di bawah naungan nilai Dalihan Na Tolu, diskusi berjalan dengan semangat kebersamaan dan rasa tanggung jawab terhadap warisan leluhur.

Hasanul Arifin gelar Patuan Mandailing dalam sambutannya menegaskan bahwa adat tidak boleh hanya menjadi simbol seremoni. “Adat harus hadir dalam setiap denyut kehidupan masyarakat, menjadi rujukan dalam menyelesaikan persoalan, serta menjadi pagar dari pengaruh negatif yang mengikis jati diri,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).

Fokus Penguatan Peran

Beberapa poin strategis yang mengemuka dalam musyawarah tersebut antara lain:

Penguatan fungsi lembaga adat dalam mediasi konflik sosial.

Revitalisasi pendidikan nilai-nilai adat kepada generasi muda.

Bacaan Lainnya

Penataan administrasi dan struktur kepengurusan agar lebih solid.

Sinergi dengan pemerintah daerah dalam pelestarian budaya Mandailing.

Para peserta sepakat bahwa keberadaan lembaga adat harus adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa kehilangan ruh dan marwahnya. Adat bukan untuk membatasi, tetapi untuk membimbing.

Sorotan tentang Gordang Sambilan

Dalam sesi diskusi, persoalan Gordang Sambilan turut mengemuka. Alat musik tradisional kebanggaan Mandailing itu dinilai perlu dipahami secara utuh, baik dari sisi sejarah, pencatutan nama maupun tata cara penggunaannya.

Salah seorang peserta musyawarah, Kholil Nasution, menyampaikan pandangannya secara terbuka.

“Menurut saya, Gordang Sambilan adalah musik masyarakat Mandailing. Namun masyarakat yang mana, dan bagaimana penggunaan Gordang Sambilan itu, inilah yang perlu kita luruskan agar tidak menimbulkan kegaduhan di antara kita,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memantik perhatian peserta. Ia menekankan pentingnya kesepahaman bersama terkait konteks penggunaan Gordang Sambilan, baik dalam acara adat, seremoni budaya, maupun kegiatan lainnya. Menurutnya, pelurusan pemahaman bukan untuk membatasi kreativitas, melainkan menjaga marwah dan nilai sakral yang terkandung di dalamnya.

Diskusi pun berlangsung dinamis namun tetap dalam suasana penuh adab. Para tokoh sepakat bahwa warisan budaya seperti Gordang Sambilan harus dijaga kehormatannya, sekaligus disosialisasikan dengan pemahaman yang benar agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Menjaga Marwah, Merawat Identitas

Dalam suasana penuh kekeluargaan, musyawarah juga menjadi ruang refleksi. Beberapa tokoh menyampaikan kekhawatiran akan lunturnya pemahaman generasi muda terhadap falsafah adat. Karena itu, program pembinaan dan pengenalan adat sejak dini menjadi salah satu rekomendasi penting.

Musyawarah tersebut ditutup dengan makan bersama dan komitmen memperkuat barisan demi menjaga marwah adat Mandailing. Di tengah perubahan zaman, satu hal tetap diyakini: adat adalah akar. Dan selama akar itu kuat, pohon kebudayaan Mandailing akan tetap tegak berdiri. (Has)

Contoh Gambar di HTML