WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Di antara dentuman sembilan gendang yang berpadu ritmis, tersimpan jejak panjang sejarah dan martabat sebuah peradaban. Gordang Sambilan bukan sekadar kesenian, melainkan simbol kebesaran adat Mandailing yang diwariskan turun-temurun.
Namun, di tengah semakin luasnya penggunaan Gordang Sambilan dalam berbagai acara, muncul kegelisahan di kalangan tokoh adat. Dalam sebuah forum musyawarah, Sutan Batara menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya merumuskan tata cara tertulis penggunaan Gordang Sambilan.
“Sudah saatnya kita memiliki tulisan yang jelas tentang tata cara penggunaan Gordang Sambilan. Supaya tidak ada lagi perbedaan penafsiran yang berpotensi menimbulkan kegaduhan,” ujarnya dengan nada tenang namun tegas dalam musyawarah adat di Kelurahan Kota Siantar, Minggu (15/2/2026).
Antara Lisan dan Tertulis
Selama ini, aturan penggunaan Gordang Sambilan lebih banyak diwariskan secara lisan melalui tradisi yang dikenal sebagai surat tumbaga holing, yang bermakna bacaon ni namar roa—yakni ajaran atau petuah leluhur yang disampaikan dari generasi ke generasi. Tradisi tersebut memang menjadi bagian dari kekuatan adat. Namun menurut Sutan Batara Pidoli, perkembangan zaman menuntut adanya dokumentasi yang lebih sistematis.
Ia menilai, pedoman tertulis bukan untuk mengubah adat, melainkan memperkuatnya. Dengan adanya rujukan bersama, masyarakat akan lebih mudah memahami konteks penggunaan—baik dalam upacara adat, penyambutan tamu kehormatan, maupun kegiatan budaya lainnya.
“Kalau kita sepakat dan menuliskannya bersama, itu bukan berarti kita kaku. Justru itu cara kita menjaga marwah,” tambahnya.
Menjaga Sakralitas dan Persatuan
Diskusi yang berlangsung hangat itu memperlihatkan satu kesamaan pandangan: Gordang Sambilan harus tetap dijaga kehormatannya. Beberapa tokoh adat bahkan menyambut baik gagasan penyusunan pedoman tertulis sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
Bagi masyarakat Mandailing, Gordang Sambilan adalah suara identitas. Dentumannya bukan hanya meriah, tetapi sarat makna. Karena itu, kejelasan tata cara penggunaan dinilai penting agar tidak terjadi kesalahpahaman, baik di internal masyarakat maupun di mata publik yang lebih luas.
Di penghujung musyawarah, semangat kebersamaan terasa kental. Harapan pun menguat—agar melalui kesepahaman dan tulisan yang jelas, Gordang Sambilan tetap berdentum dengan wibawa, menjaga jati diri Mandailing di tengah perubahan zaman. (Has).
