WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Ramadhan tinggal menghitung hari. Aktivitas warga di pusat kota meningkat, terutama di kawasan Pasar Baru Panyabungan. Namun, lonjakan mobilitas itu berbanding lurus dengan kemacetan yang tak terurai di Simpang 4 Pasar Baru.
Menjelang siang, deru mesin bercampur klakson bersahut-sahutan. Sepeda motor menyelinap di sela mobil, angkutan umum berhenti mendadak menaikkan dan menurunkan penumpang, sementara antrean kendaraan di sekitar SPBU Pasar Baru Panyabungan kian memanjang. Lalu lintas tersendat dari empat penjuru.
Sekitar pukul 10.WIB Tak ada petugas yang terlihat mengatur arus kendaraan. Pengendara pun mengandalkan isyarat tangan seadanya, saling mendahului, dan berharap pengemudi lain mau mengalah. Situasi ini membuat simpang yang seharusnya menjadi titik temu aktivitas ekonomi justru berubah menjadi simpul kemacetan.
“Kalau sudah jelang siang begini, apalagi jelang puasa, pasti macet. Tapi herannya, belum ada petugas yang mengatur,” ujar Rahmat seorang pengendara yang setiap hari mangkal diarea tersebut.
Bagi pedagang, kondisi ini ibarat dua sisi mata uang. Ramainya pengunjung membawa berkah, namun akses yang tersendat kerap membuat pembeli enggan berlama-lama. “Orang jadi malas berhenti kalau lihat macet panjang,” kata Siti (42), pedagang di sekitar simpang.
Fenomena ini nyaris menjadi rutinitas tahunan setiap menjelang Ramadhan. Tradisi belanja kebutuhan pokok, berburu takjil, hingga meningkatnya aktivitas warga di pusat kota membuat volume kendaraan melonjak drastis. Sayangnya, peningkatan itu belum diimbangi dengan pengaturan lalu lintas yang memadai.
Warga berharap ada langkah konkret dari pihak terkait, setidaknya penempatan petugas pada jam-jam rawan. Sebab, di tengah suasana menyambut bulan suci, kenyamanan dan ketertiban lalu lintas menjadi bagian dari harapan bersama.
Ramadhan di depan mata. Harapannya bukan hanya hati yang dipersiapkan, tetapi juga wajah kota yang lebih tertib dan ramah bagi semua. (Has).
