WARTAMANDAILING.COM, Pasaman Barat – Kondisi Sungai Koto Balingka yang sempat jernih menjelang dan pasca Idul Fitri kini kembali memburuk. Air sungai berubah warna menjadi keruh kecokelatan atau kekuningan, memicu kekhawatiran besar warga yang selama ini bergantung hidup pada aliran sungai tersebut.
Perubahan drastis kualitas air ini diduga kuat berkaitan dengan aktivitas mencurigakan di wilayah hulu sungai. Kelompok masyarakat peduli lingkungan menemukan indikasi kuat adanya praktik pertambangan tanpa izin (PETI) yang kembali beroperasi di kawasan Kampung Lapu, Kejorongan Batang Lapu.
Dalam penelusurannya, warga mendapati adanya sekitar lima unit alat berat yang diduga beroperasi secara terus-menerus di lokasi tersebut. Aktivitas ini dinilai menjadi penyebab utama sedimentasi dan pencemaran yang mengalir hingga ke hilir.
“Setiap aktivitas di hulu meningkat, kondisi air di hilir langsung berubah. Ini yang kami rasakan beberapa hari terakhir,” ujar salah seorang perwakilan warga.
Sungai Koto Balingka merupakan sumber kehidupan utama bagi masyarakat Desa Koto Balingka, Batang Lapu, dan sekitarnya. Airnya digunakan untuk kebutuhan vital mulai dari memasak, mencuci, hingga irigasi pertanian.
Namun kini, kondisi air yang keruh disertai bau yang tidak biasa membuat warga was-was.
“Airnya keruh dan tidak seperti biasanya. Kami jadi ragu untuk menggunakannya,” ungkap salah satu warga.
Kekhawatiran tidak hanya soal kesehatan, tetapi juga kerusakan ekosistem. Dilaporkan populasi ikan mulai berkurang drastis, sementara tanaman pertanian yang diairi menggunakan air sungai menunjukkan tanda-tanda gangguan pertumbuhan.
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan, masyarakat mendesak Pemerintah Daerah dan aparat penegak hukum untuk segera turun ke lapangan. Mereka meminta dilakukan penindakan tegas terhadap dugaan tambang ilegal tersebut agar kerusakan lingkungan tidak semakin parah.
Warga juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian Sungai Koto Balingka agar tetap layak pakai dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. (Edriadi)






