Hilman Terbaring Sakit, ibu 4 Anak Ini Butuh Bantuan Pemerintah dan Dermawan

  • Bagikan
Hilman didampingi istrinya tampak terbaring lemas di tempat tidur di kediamannya kelurahan dalan lidang, (fhoto: Syahren)

WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal -Hilman (37), bapak empat anak ini hanya bisa terbaring di tempat tidur hampir selama empat bulan terakhir, tubuhnya semakin mengering usai divonis dokter menderita penyakit paru-paru.

Upaya pengobatan pun sudah dilakukan keluarga, baik secara medis, maupun non medis, tapi kondisinya belum juga membaik.

Hilman warga Kelurahan Dalan lidang, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ini berharap adanya uluran tangan dari para dermawan untuk biaya pengobatan, tak hanya itu, istrinya efrida hanya seorang buruh pendodos karet kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari harinya.

“Suami saya mengalami sakit seperti ini sudah hampir setahun, empat bulan yang lalu sudah sempat dirawat di rumah sakit umum panyabungan itupun berkat bantuan dana dari tetangga, setelah mendapat perawatan selama dua Minggu di RSUD, dokter menyampaikan sudah ada perubahan dan sudah bisa dibawa pulang, “ujarnya efrida istri Hilman kepada awak media di kediamannya, Jumat (23/9/2022).

Efrida (32) menceritakan, seminggu setelah pulang berobat, penyakit yang diderita suaminya kambuh lagi dan semakin parah, parahnya bahkan kini tak bisa duduk dan berdiri.

“Sekitar lima hari ia masih bisa duduk di teras rumah, beberapa hari kedepannya kambuh lagi dan tambah parah, bahkan kini ia hanya bisa terbaring di tempat tidur hal ini sudah berlangsung tiga bulan, saya tak punya biaya pak, “ucap istrinya sembari mengusap air mata mengalir di pipinya.

Lebih lanjut efrida menjelaskan, sejak suaminya terbaring sakit, dirinya terpaksa menjadi tulang punggung keluarga mulai dari mencari nafkah hingga merawat suami yang kini mengidap penyakit paru-paru.

“Kami punya empat anak, saat ini dua diantaranya duduk di bangku sekolah dasar, Nur Ainun anak pertama sempat sekolah di pesantren, namun kini setelah ayahnya sakit parah ia tidak sekolah lagi lantaran saya tak mampu membiayainya, “imbuhnya.

Efrida hanya seorang buruh pendodos karet dengan berpenghasilan pas-pasan untuk menutupi makan sehari-hari bagi ke empat anak dan suaminya.

“buruh mendodos karet setiap Minggu hasilnya hanya sekitar 250 ribu, jangankan untuk biaya berobat, untuk bisa menutupi makan sehari hari saja sudah pas-pasan, “pungkasnya.

Pihak keluarga sangat berharap adanya perhatian para dermawan dan juga pemerintah setempat untuk dapat memberikan bantuan biaya pengobatan bagi bapak pengidap penyakit paru paru ini.

(Syahren)

  • Bagikan