WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Wibawa Polsek Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), seolah tak lagi bernilai di mata para pelaku tambang emas ilegal di Desa Rantobi. Meski pihak kepolisian kerap melakukan sosialisasi agar aktivitas tambang emas ilegal yang menggunakan alat berat dihentikan, para pelaku justru tak menggubris imbauan tersebut.
Warga setempat, Nasution, mengungkapkan bahwa titik-titik aktivitas tambang emas ilegal di wilayah Desa Rantobi bukan berkurang, melainkan semakin bertambah.
“Titiknya justru bertambah. Ada di Dusun Batumarsaong, dan ada juga di lokasi belakang bangunan SD Rantobi. Lokasi yang baru dibuka ini bahkan pernah memakan korban meninggal dunia sebelumnya,” jelas Nasution.
Menurut Nasution, kondisi ini menunjukkan seolah harga diri aparat penegak hukum, baik TNI maupun Polri, sudah tidak lagi dianggap oleh para penambang ilegal. Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap kedua institusi negara tersebut kian menurun.
Ia berharap Kejaksaan dapat turun tangan secara langsung untuk melakukan eksekusi di lokasi tambang sekaligus menindak tegas mafia tambang emas ilegal, termasuk dengan penerapan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU).
“Para pelaku tambang emas ilegal itu jelas mencuri harta negara. Wajar jika ketika ditangkap dilakukan pemiskinan. Kalau mengandalkan aparat TNI dan Polri, saya yakin masyarakat sudah banyak yang kehilangan kepercayaan,” tegas Nasution.
Pada intinya, kata Nasution, warga tidak ingin terus dihantui ancaman bencana akibat aktivitas tambang emas ilegal yang menggunakan alat berat, karena dampaknya sangat merusak lingkungan.
Dampak tersebut, lanjutnya, sudah sangat nyata. Banyak ruas jalan rusak akibat aktivitas tambang yang beroperasi di daerah aliran sungai (DAS). Pengerukan material pasir yang mengandung emas menyebabkan aliran sungai berpindah dan mengikis badan jalan.
“Di Batang Natal ini, jalan umum berada tepat di pinggir Sungai Batang Natal. Akibat aktivitas tambang di daerah aliran sungai, sudah banyak jalan umum terdampak karena aliran sungai berpindah akibat pengerukan sedimen pasir,” ungkapnya.
Aktivitas tambang emas ilegal di wilayah Batang Natal memang telah lama menjadi isu publik. Meski kerap diberitakan, penindakan tegas dari aparat terkait nyaris tak pernah terlihat. Ironisnya, aktivitas tambang emas ilegal menggunakan alat berat tidak hanya terjadi di wilayah pedesaan.
Bahkan, tak jauh dari Kantor Polsek Batang Natal, aktivitas tambang emas ilegal dengan alat berat masih bebas beroperasi tanpa tindakan tegas dari aparat kepolisian setempat.
Terpisah, Kapolsek Batang Natal telah diupayakan konfirmasi oleh awak media melalui pesan WhatsApp terkait aktivitas tambang emas ilegal tersebut. Namun, hingga kini belum ada jawaban atau tanggapan resmi yang diberikan. (Has)

