Di sebuah desa yang namanya telah dihapus dari peta, hiduplah seorang lelaki bernama Aris. Tubuhnya tegap, namun sorot matanya adalah kawat berduri.
Siapa pun yang berpapasan dengannya akan merasa seolah-olah baru saja melanggar batas wilayah.
Aris adalah keributan yang berjalan, ia bersengketa dengan cuaca, berdebat dengan bayangannya sendiri, dan mendakwa angin yang lancang meniup topinya.
Orang-orang tua di kedai kopi sering berbisik sambil menyesap pahitnya sisa ampas, “Aris itu, barangkali dulu saat malaikat mengambil segenggam tanah untuk moyangnya, yang terkeruk adalah tanah sengketa.”
Konon, menurut riwayat lisan yang beredar, Aris memang tidak lahir dari sari pati tanah yang subur dan tenang.
Ia berasal dari sari pati tanah yang di atasnya pernah berdiri pagar-pagar pembatas yang dipaksa tegak, tanah yang diklaim oleh dua tuan, tanah yang basah bukan oleh hujan, melainkan oleh peluh sengketa dan air mata perebutan.
Sifatnya adalah cerminan dari asal-usulnya. Di dalam dadanya, ada sertifikat yang tumpang tindih. Pikirannya adalah garis batas yang selalu bergeser.
Setiap kali ia bicara, suaranya terdengar seperti palu hakim yang dipukulkan ke meja, menuntut hak yang sebenarnya tidak pernah ada.
Suatu sore, Aris berdiri di tepi ladang jagung miliknya yang hanya sepetak. Ia sedang memaki pohon mangga tetangga yang dahan-dahannya condong beberapa senti melewati pagar bambunya.
“Ini pelanggaran kedaulatan!” teriaknya pada batang pohon yang membisu.
Seorang kakek tua bernama Pak Tua Bijak, yang sedang melintas membawa seikat kayu bakar, berhenti sejenak.
Ia menatap Aris dengan iba, seolah sedang melihat sebuah bangunan tua yang nyaris runtuh karena pondasinya yang tak stabil.
“Aris,” panggil Pak Tua lembut. “Sampai kapan kau mau menjadi medan perang bagi dirimu sendiri?”
“Tanah ini milikku, Pak Tua! Batas adalah harga mati!” jawab Aris dengan urat leher yang menegang.
Pak Tua tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan rahasia ribuan tahun. “Kita semua memang kembali ke tanah, Aris. Tapi ingatlah, tanah yang paling luas dan paling tenang bukanlah yang dipagari besi, melainkan tanah yang ada di dalam hati yang lapang.
Jika kau terus merasa sebagai ‘tanah sengketa’, maka jiwamu tak akan pernah merasakan panen kedamaian. Kau hanya akan menumbuhkan ilalang kebencian.”
Aris terdiam. Untuk pertama kalinya, kawat berduri di matanya sedikit mengendur. Ia melihat ke bawah, ke tanah yang ia pijak. Tanah yang cokelat, bisu, dan pasrah.
Malam itu, Aris bermimpi. Ia melihat dirinya hancur kembali menjadi debu, lalu debu itu tertiup angin ke segala arah.
Di alam itu, tidak ada pagar. Tidak ada patok semen. Tidak ada surat segel. Hanya ada hamparan bumi yang luas tanpa nama.
Keesokan harinya, Aris tidak lagi memaki pohon mangga tetangganya. Ia justru duduk di bawah bayangannya yang rindang.
Ia menyadari satu hal: meski ia mungkin lahir dari sari pati tanah sengketa, ia masih punya sisa umur untuk menanam benih-benih kerelaan di atasnya.
Sebab sedalam-dalamnya kita menggali batas, pada akhirnya kita hanya butuh tanah berukuran satu kali dua meter yang tak akan pernah diperebutkan oleh siapa pun lagi.

Oleh: Adnan Buyung Lubis

