Pria Penyandang Lumpuh Ini Kerap Ditinggal Sendirian Saat Orangtuanya Bekerja

  • Bagikan
Derita Muhammad Tahir penyandang lumpuh kerap ditinggal sendirian saat orangtuanya pergi bekerja [foto: istimewa]

WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Semenjak lahir, Muhammad Tahir seorang pria yang kini berusia 21 tahun warga Desa Simangambat Tambangan, Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) diduga mengalami kelumpuhan akibat terserang penyakit demam tinggi saat berumur tiga bulan.

Meski pria ini sudah menginjak usia dewasa, dirinya hanya bisa berdiam diri dan terbaring di rumahnya setiap hari. Segala kebutuhannya bergantung dari bantuan ayah dan ibunya.

Muhammad Tahir adalah anak keenam dari tujuh bersaudara dari pasangan Baktiar (65) dan ibunya Hamidah (63). Awalnya buah hati mereka itu lahir dengan normal dan dinyatakan sehat.

Seiring waktu, jelang usia umur tiga bulan, Tahir terserang penyakit demam tinggi, matanya melotot dan tubuhnya kejang kejang. Sejak itulah tubuhnya mengalami gangguan saraf sehingga mengakibatkan dirinya tidak bisa berdiri dan berjalan meskipun ia kini sudah dewasa.

Kedua orangtuanya tidak berhenti berjuang untuk mengobati penyakit yang diderita buah hati mereka itu. Berbagai cara dilakukan mulai dari pengobatan alternatif hingga pengobatan medis.

Amatan awak media, bagian kaki Tahir tidak bertenaga dan kaku sehingga mengakibatkan dirinya tidak bisa berdiri dan berjalan.

Muhammad Tahir memiliki enam saudara, lima diantaranya sudah berumah tangga. Di rumah sederhana itulah dirinya dan adek perempuannya tinggal bersama dengan kedua orangtua mereka yang sudah renta.

Kedua orangtuanya bekerja sebagai petani, yakni pendodos karet dengan pendapatan 25 kilo gram perminggunya. Jika dirupiahkan, hasilnya hanya sekitar 200 ribu rupiah.

Muhammad Tahir kerap ditinggal sendirian di rumah karena kedua orangtuanya bekerja dan adik perempuannya pergi ke sekolah.

“Saat umurnya tiga bulan, ia demam tinggi, matanya melotot dan tubuhnya kejang kejang. Dampak dari penyakit itu menyisakan gangguan dan pertumbuhan bagi anak saya, bahkan sampai sekarang ia tidak bisa berdiri dan berjalan begitu juga berbicara dengan baik layaknya seorang remaja,” papar Hamidah, ibu Muhammad Tahir kepada awak media, Minggu (14/8/2022).

Hamidah menceritakan, ia bersama sang suami telah berupaya semampunya untuk melakukan pengobatan yang terbaik bagi anak keenamnya itu. Baik melalui cara alternatif juga pengobatan medis.

“Untuk pengobatan sudah kami upayakan dengan kemampuan yang kami miliki, belakangan Tahir sudah kami bawa berobat ke RSUD Padang Sidempuan,” ungkap Hamidah.

Salah seorang aparat desa, Hotman menuturkan, Tahir anak dari keluarga yang kurang mampu itu memang saat bayi terserang penyakit demam tinggi. Akibat dampak penyakit itu, meski usianya kini sudah menginjak dewasa ia tidak pernah keluar rumah.

“Tahir tidak bisa berdiri dan berjalan, meski usianya kini sudah 21 tahun. Mirisnya ia tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar, kasihan dengan dia, apalagi saat ianya ditinggal sendirian di rumah karena ayah dan ibunya pergi bekerja,” ucap Hotman.

Sementara itu, Kepala Puskesmas (Kapus) Kecamatan Tambangan saat dikonfirmasi awak media lewat telepon selulernya seputar jenis penyakit yang diderita Tahir, dan sejauh mana pelayanan kesehatan bagi warga di wilayah kerjanya tersebut, belum memberikan keterangan resmi hingga berita ini dipublis. (Syahren)

  • Bagikan