WARTAMANDAILING.COM, Pasaman – Tindakan mulia dan kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan ditunjukkan oleh seorang warga bernama Rafi, yang berasal dari Jorong Sinuangon, Nagari Cubadak Barat, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.
Melihat kondisi pendidikan di daerah terisolir tersebut yang sangat memprihatinkan karena minimnya tenaga pengajar, pria ini mengambil inisiatif luar biasa dengan rela merogoh kocek pribadi untuk membayar gaji guru honorer demi kelangsungan proses belajar mengajar.
Kisah inspiratif ini terungkap dalam wawancara dengan media, Rabu (2/4/2026). Diketahui, sejak tahun 2024 hingga pertengahan tahun 2025 lalu, Rafi secara sukarela membiayai gaji tiga orang tenaga pengajar di SDN 10 Lanai Sinuangon.
Setiap bulannya, ia membayarkan gaji sebesar Rp700.000 per orang. Artinya, setiap bulan ia harus mengeluarkan total sekitar Rp2.100.000 dari uang pribadinya demi memastikan anak-anak di daerah tersebut tetap bisa bersekolah.
“Pada waktu itu tenaga pengajar yang ditugaskan di sini masih sangat minim. Akibatnya, proses belajar mengajar tidak berjalan baik dan sekolah sering diliburkan. Karena kasihan melihat anak-anak putus sekolah, timbul inisiatif saya untuk membiayai sendiri guru-guru tersebut,” ungkap Rafi.
Kepedulian ini terus ia jalankan hingga akhirnya pada bulan November 2025, kondisi mulai membaik setelah adanya penambahan tenaga pengajar dengan status P3K dari Dinas Pendidikan setempat.
Kepedulian Rafi tidak berhenti di sektor pendidikan saja. Bersama masyarakat, ia juga memotori pembangunan akses jalan menuju daerah tersebut secara swadaya atau gotong royong, padahal seharusnya fasilitas umum tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah.
Tindakan Rafi ini menjadi bukti nyata semangat gotong royong dan cinta tanah air yang patut diacungi jempol.
Kinerja dan dedikasi Rafi ini patut mendapatkan apresiasi tinggi, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Ia bukan hanya sekadar warga biasa, melainkan mitra pemerintah yang turut sukseskan program pendidikan dan pembangunan di daerah terpencil.
“Sudah sepantasnya pemerintah memberikan penghargaan bagi masyarakat seperti beliau. Ini sesuai dengan harapan kita bersama demi terwujudnya Sila Kelima Pancasila, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” tegasnya.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak orang dan menjadi perhatian khusus bagi instansi terkait untuk lebih peduli terhadap daerah-daerah terisolir. (Edriadi)




