Presiden Soeharto kunjungi Bosnia tanpa alat pengamanan ( foto:istimewa)

WARTAMANDAILING.COM, Jakarta – Banyaknya keraguan orang akan perubahan Presiden RI ke-2, HM Soeharto, dalam membela Islam, dapat ditepis dari peristiwa penting berikut ini. Bisa saja, peristiwa ini juga belum pernah dilakukan pemimpin Negara Islam lainnya. Dimana sejarah mencatat, ia datang dan memberi dukungan langsung kepada Muslim Bosnia yang tengah dibantai Serbia di tahun 1995.

Ketika itu, pembantaian etnis Muslim di Balkan telah memakan korban ribuan rakyat Bosnia. Dunia mencatatnya sebagai genosida paling mengerikan setelah Perang Dunia II usai. Sekitar 200 ribu umat Islam tewas dibantai dan 20 ribu wanita Muslim menjadi korban pemerkosaan, demikian menurut sebuah laporan.

Dalam buku ‘Pak Harto The Untold Stories’ (Gramedia Pustaka Utama, 2011), diceritakan, di tengah baku tembak di antara Bosnia dan Serbia, Presiden Soeharto mencoba membaca ke Balkan.

Pak Harto nekat masuk Sarajevo, ibu kota Bosnia Herzegovina, setelah bertemu Presiden Kroasia Franjo Tudjman, di Zagreb pada tahun 1995.

Keputusan Pak Harto masuk di tengah wilayah yang tengah berkecamuk ini mengagetkan semua anggota rombongan. Apalagi baru mendapat kabar pesawat yang ditumpangi Utusan Khusus PBB Yasushi Akashi ditembaki saat terbang ke Bosnia.

Rupanya, peristiwa penambakan itu tidak menyurutkan langkah pemimpin negara Non Blok yang disegani di Asia ini untuk tetap berangkat ke Bosnia.

Setelah menandatangani surat pernyataan risiko dari PBB, Pak Harto akhirnya diizinkan masuk Sarajevo. Soeharto, didampingi Moerdiono, Ali Alatas, diplomat senior Nana Sutresna, ajudan Kolonel Soegijono, Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin, juru foto kepresidenan Saidi, serta beberapa orang lainnya, termasuk ANTARA dan RRI.

Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin sangat cemas. Apalagi saat itu, Pak Harto menolak mengenakan helm baja Dan menolak menggunakan rompi antipeluru seberat 12 kg yang dikenakan oleh setiap anggota rombongan.

“Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (jinjing) saja,” ujar Soeharto pada Sjafrie. (Kisah Soeharto tembus medan perang Sarajevo untuk bantu Bosnia, Merdeka.com, Senin, 19 Desember 2016)

Karena Pak Harto hanya menggunakan jas dan kopiah. Sjafrie pun ikut-ikutan mengenakan kopiah yang dipinjamnya dari seorang wartawan yang ikut. Tujuannya untuk membingungkan sniper yang pasti akan mengenali Presiden Soeharto di tengah rombongan.

“Pak Harto turun dari pesawat dan berjalan dengan tenang. Melihat Pak Harto begitu tenang, moral dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat, tenang dan mantap. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah,” beber Sjafrie.

Sesampai di Istana, Pak Harto diterima Presiden Bosnia Herzegovina Alija Izetbegovic yang menyambutnya hangat. Dia benar-benar bahagia Soeharto tetap mau menemuinya walaupun harus melewati bahaya.

Setelah meninggalkan istana, Sjafrie pun bertanya pada Soeharto mengapa nekat mengunjungi Bosnia yang berbahaya. Termasuk menyampingkan keselamatan dirinya.

“Kita ini pemimpin Negara Non Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Kita tengok,” jawab Pak Harto.

“Tapi resikonya sangat besar, Pak,” kata Sjafrie lagi.

“Ya itu bisa kita kendalikan. Yang penting orang yang kita datangi senang, morilnya naik, mereka jadi tambah bersemangat, ”kata Pak Harto.

Itulah kata-kata yang membekas di hati Sjafrie. Bahkan sampai puluhan tahun kemudian, dia masih ingat kata-kata Presiden Soeharto tersebut.

Di Sarajevo, Pak Harto meresmikan Masjid Istiqlal atau juga dikenal Masjid Soeharto yang dibangun dengan dana bantuan pengusaha Indonesia, yang juga adik Pak Harto, H. Probosutedjo.

Masjid seluas 2.500 meter persegi itu menelan pembiayaan sebanyak 2,7 juta dolar. Masjid yang terletak di Otoka, Sarajevo, itu menjadi penanda hubungan bilateral dan persahabatan antara Indonesia dan Bosnia Herzegovina.

Seorang warga Bosnia, Hasisic Inda, mengatakan, seluruh masyarakat muslim sangat berterima kasih kepada pemerintah Indonesia atas pembangunan masjid. Dengan begitu, masyarakat dapat shalat dan membaca Al-Quran di masjid. Kehadiran Masjid Istiqlal juga mengobati duka lama warga muslim Bosnia yang telah kehilangan ribuan masjid dan ratusan madrasah setelah dihancurkan tentara Serbia dalam perang etnis, 1992.

Rasa gembira serupa juga diungkapkan Hota Vezira. Ia mengaku sangat senang dengan pembangunan Masjid Istiqlal. Hota Vezira berharap, masyarakat Bosnia bisa datang ke masjid dari pada mabuk-mabukan di pinggir jalan. “Pembangunan (masjid) akhirnya terwujud juga setelah masyarakat menunggu selama empat tahun,” kata Hota. (Muslim Bosnia Membanjiri Masjid Sumbangan Indonesia, Liputan6, 27 Sep 2001)

Kisah perjalanan Soeharto ke medan perang Bosnia yang dikenal dengan perjalanan “kontrak mati” ini pada akhirnya dikenang sebagai perjalanan bersejarah, hingga lahirnya masjid yang menyatukan dua Negara berbeda.(bs/suarapalu)