Perempuan membunyikan panci dan wajan sebagai bentuk protes terhadap kekerasan gender dan femisida di Kota Meksiko, Meksiko, Jumat (6/3/2020). Foto: REUTERS/Luisa Gonzalez/ama/djo

WARTAMANDAILING.COM, Meksiko – Data resmi Pemerintah Meksiko menyebutkan, hampir 1.000 perempuan di negara tersebut terbunuh tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut menunjukkan lonjakan tingkat kekerasan yang terjadi, dikombinasikan dampak kebijakan karantina wilayah untuk mencegah penyebaran virus corona COVID-19.

Para pegiat menyebut kombinasi itu telah menempatkan perempuan dalam bahaya ganda. Angka itu 8% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu, menurut data.

“Pandemi paling mematikan bagi wanita di negara kita, yang lebih mematikan dari virus corona, adalah kekerasan feminisidal,” kata anggota Kongres Martha Tagle dari partai oposisi Partai Gerakan Warga yang merujuk pada kasus pembunuhan perempuan.

“Hari ini, kekerasan adalah ancaman terbesar bagi semua hak asasi perempuan yang telah kita akui dengan upaya besar,” katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Sekitar 14.000 kasus COVID-19 yang telah dikonfirmasi telah dilaporkan di Meksiko, dan lebih dari 1.300 kematian terjadi, meskipun tingkat pengujian rendah.

Dari kematian akibat virus corona itu, sekitar 420 adalah perempuan, berdasar data pemerintah.

Pemerintah melaporkan bahwa setidaknya 720 perempuan dibunuh pada kuartal pertama tahun ini dan 244 perempuan adalah korban dari pembunuhan femisida yaitu ketika seorang perempuan dibunuh karena jenis kelaminnya.