Filosofi dan Makna Mendalam di Balik Manortor Parmasak pada Resepsi Pernikahan

WARTAMANDAILING.COM, Padangsidimpuan – Keindahan dan kekayaan budaya Batak Angkola kembali terlihat dalam rangkaian upacara adat pernikahan antara Zainal Abidin Nasution dengan Robiah Al-adawiyah yang berlangsung di Jalan Kenanga, Kelurahan Ujung Padang, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Sabtu (2/5/2026).

Salah satu momen yang menjadi sorotan adalah penampilan Manortor Parmasak, sebuah tarian yang dilakukan setelah pihak hula-hula, tulang, dan dongan tubu selesai menari.

Penampilan ini bukan sekadar hiburan, melainkan penanda penghormatan terakhir sebelum penutupan acara adat.

Secara umum, tarian ini dilakukan untuk menunjukkan kesiapan para parmasak dalam melayani seluruh kebutuhan makanan dan operasional acara.

Gerakan manortor dari parmasak merupakan bentuk permohonan berkat dari hula-hula, agar hidangan yang telah disiapkan (deke simudur-udur) membawa berkah bagi seluruh undangan yang hadir.

Lebih dari itu, tarian ini juga menjadi simbol kerendahan hati serta kepatuhan total dalam melayani keluarga dan tamu.

Dalam konteks upacara, Manortor Parmasak menegaskan posisi mereka sebagai tulang punggung yang memastikan acara berjalan lancar, baik dari segi tata cara adat maupun kelancaran konsumsi.

Bacaan Lainnya

Secara ringkas, manortor bagi parmasak bukan sekadar gerakan tari, melainkan sebuah pernyataan komitmen, dedikasi, dan rasa hormat yang mendalam dalam setiap rangkaian adat yang dilaksanakan. (Nas)

Contoh Gambar di HTML