WARTAMANDAILING.COM, Padangsidimpuan – Memperingati Hari Pendidikan Nasional, Mahasiswa UIN Syahada Padangsidimpuan, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Prodi Pendidikan Agama Islam, Sakhti Pati Alam, menyuarakan keprihatinan mendalam terkait kondisi dunia pendidikan di Indonesia.
Menurutnya, pendidikan adalah fondasi utama peradaban dan kemajuan bangsa, namun realitas di lapangan masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar, khususnya terkait kesejahteraan tenaga pendidik.
Dalam tulisannya berjudul “Memperingati Hari Pendidikan Nasional: Ketika Krisis Kesejahteraan Guru Masih Diabaikan”, Sakhti menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses pembentukan karakter dan moral sebagaimana cita-cita Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara.
Sakhti Pati Alam menyoroti ironi yang terjadi saat ini. Banyak guru, khususnya tenaga honorer, yang telah mengabdi selama puluhan tahun namun nasibnya masih belum jelas.
Gaji yang diterima seringkali jauh di bawah standar kelayakan hidup, tidak sebanding dengan tanggung jawab besar yang mereka emban dalam mencerdaskan anak bangsa.
“Guru honorer berpuluh tahun mengabdi, gajinya masih begitu aja. Padahal karena jasa merekalah, anak-anak Indonesia bisa mengerti dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sejatinya hal ini bukan soal materi, tetapi tentang perjuangan yang sering diabaikan,” ujar Sakhti.
Ia menekankan bahwa negara menuntut guru untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kualitas, namun penghargaan yang diberikan seringkali hanya sebatas seremoni dan slogan tanpa kebijakan yang nyata.
“Semua Profesi Lahir dari Seorang Guru”
Lebih jauh, aktivis mahasiswa ini mengingatkan betapa vitalnya peran seorang guru.
“Negara berdiri karena ada generasi terdidik, dan generasi terdidik lahir dari guru. Semua profesi lahir dari seorang guru. Maka, kesejahteraan mereka harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Menurut Sakhti, meningkatkan kesejahteraan guru bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bentuk penghormatan negara. Guru yang sejahtera akan lebih fokus mendidik dan menghasilkan kualitas pembelajaran yang lebih baik.
Mengacu pada Pembukaan UUD 1945, Sakhti menegaskan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tujuan utama negara. Oleh karena itu, pendidikan harus ditempatkan bukan hanya sebagai agenda tahunan, melainkan prioritas utama.
“Masa depan bangsa tidak dibangun dari megahnya infrastruktur semata, melainkan dari kuatnya kualitas sumber daya manusia yang lahir melalui pendidikan yang adil, merata, dan bermutu,” tulisnya.
Sebagai penutup, Sakhti mengutip semboyan abadi Ki Hadjar Dewantara: “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” (Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan).
Oleh: Sakhti Pati Alam
(Mahasiswa Uin Syahada Padangsidimpuan)






