Syekh H. Mukhtar Muda Nasution, Tokoh NU Kharismatik

WARTAMANDAILING.COM, Sibuhuan – Syekh H. Mukhtar Muda Nasution lahir di Sibuhuan, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas (dulu Tapanuli Selatan – penulis) tanggal 9 Januari 1921 bertepatan dengan 22 Ramadhan 1340 H.

Disebut juga nama kecil Maraham Nasution, Ayahnya bernama Muhammad Ludin Nasution yang menjadi taat dalam menjalankan agama. Dalam kehidupan sehari-hari Syekh Mukhtar Muda sering diundang dengan sebutan Tuan Mukhtar.

Di masa kecil, Tuan Mukhtar tidak berbeda dengan anak-anak seusianya dan memang Sibuhuan merupakan daerah yang masyarakatnya sangat religius yang rata-rata mata pencahariannya dengan berkebun dan beternak, dari kondisi seperti yang terjadi Tuan Mukhtar berkembang menjadi yang religius dekat dengan masyarakat kecil.

Dia masuk sekolah ” gubernemen ” (setingkat SD) tahun 1929 s / d 1934. Dia juga menuntut ilmu agama di Maktab Syariful Majlis (cikal bakal pondok pesantren Aek Haruaya) Sibuhuan di Galanggang pada 1931 s / d 1935. Di Maktab tampaknya disambut dengan baik oleh Syekh Muhammad Dahlan Hasibuan (pendiri pondok pesantren Aek Haruaya , Sibuhuan) yang kelak menjadi sahabat beliau. 

Atas saran Syekh M. Dahlan, Tuan Mukhtar melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Aziziyah di Tanjung Pura, Langkat.

Pada 1938, Tuan Mukhtar tamat dari Langkat dan kemudian berangkat ke Masjidil Haram, Mekkah untuk belajar dan memperdalam ilmu agama sampai tahun 1941. Bidang ilmu utama yang didalami adalah ilmu hadis dan ilmu fikih .

Dia kembali ke kampung halaman di tahun 1942 untuk mengamalkan ilmu agama yang telah dituntutnya selama ini, dia menjadi guru agama di Madrasah Jam’iyatul Muta’allimin , Sibuhuan ( Maktab Syariful Majlis yang dipindahkan dari Galanggang ke Banjar Kubur ) hingga tahun 1946.

Read More

Pada tahun 1947, Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Utara lahir di Padangsidimpuan atas perlindungan ulama-ulama terkemuka Tapanuli Selatan (saat itu) seperti Syekh H. Mushtafa Husein , Syekh H. Baharuddin Thalib Lubis, Nuddin Lubis, Syekh Ali Hasan Ahmad dan lain-lain- berbaring Lahirnya NU Sumatera Utara ini melahirkan lahirnya NU di seluruh wilayah Tapanuli Selatan, termasuk daerah Sibuhuan, Barumun. 

Dari Sibuhuan inilah ulama NU antara lain Syekh Muhammad Dahlan, HM Ridoan Harahap, Tongku Imom Hasibuan dan disebut Tuan Mukhtar sebagai ulama muda, maka dimulailah pengabdian Tuan Mukhtar dalam membesarkan NU di Tapanuli Selatan.

Dia dipercaya menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah NU Sibuhuan mulai tahun 1947 hingga 1955, kemudian dia menjadi Direktur (Kepala Sekolah – penulis ) PGA NU Sibuhuan pada tahun 1954 s / d 1980, Kepala Madrasah NU Sibuhuan dari tahun 1955 sampai 1990.

Tuan Mukhtar juga ikut membantu ulama -ulama NU, yang diinisiasi Syekh Ali Hasan Ahmad , mendirikan UNUSU (cikal bakal IAIN Padangsidimpuan) pada tahun 1962 dan sekaligus menjadi pengajar Fakultas Syariah hingga tahun 1966.

Pada tahun 1973, Syekh Muhammad Dahlan (sahabat sekaligus guru) meninggal dunia sehingga mengelola Pondok Aek Haruaya dipercayakan kepada Tuan Mukhtar. 

Tuan Mukhtar menjadi pemimpin pesantren ini hingga tahun 1990. Tuan Mukhtar, Syekh Muhammad Dahlan bersama HM Ridoan Harahap dikenal sebagai Ulama Tiga Serangkai dari Barumun , apa yang harus mereka sampaikan akan menjadi dan sangat bermanfaat bagi masyarakat Barumun.

Seperti kebanyakan ulama NU, Tuan Mukhtar dibangun sekaligus menjadi pimpinan Pondok Pesantren Al Mukhlisin pada tahun 1990 yang menggabungkan kurikulum yang dibuat oleh LP Maarif dari PBNU. 

Pada tahun 1997, ia mendirikan Pesantren lagi yang bernama Pondok Pesantren Al Mukhtariyah (sekarang Pendok Pesantren Syekh Mukhtar Muda ) di Bangun Raya , Sibuhuan (Ref: Aswin Azhar Hasibuan, S.Ag, SH, SP ~ cucu kandung Tuan Mukhtar). 

Dalam mendidik santrinya, Tuan Mukhtar sangat menitikberatkan pada pendidikan iman, moral dan akhlak bersandarkan pada ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Selain aktif di dunia pendidikan agama Islam, khusus NU, Tuan Mukhtar juga mengecap asam garam dalam organisasi NU. Dia memulainya dengan menjadi pengurus MWC Barumun, kemudian PCNU Tapanuli Selatan, PWNU Sumatera Utara sampai dengan PBNU. 

Dia adalah ulama NU kharismatik yang sangat ketat dalam penerapan Aswaja NU dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menjadi Rais Syuriyah PWNU Sumatera Utara sejak tahun 1990 dan juga menjadi Mustasyar PBNU sejak tahun 1994 hingga ia meniggal dunia di tahun 2009.

Dia meninggal dunia pada tanggal 31 Oktober 2009 bertepatan dengan 12 Dzulqa’dah 1430 H dan dimakamkan di Sibuhuan. 

Sepeninggal beliau, pengelolaan Pondok Pesantren Al Mukhtariyah dipercayakan kepada babere- nya (menantunya), H. Maraundol Hasibuan , bersama cucu-cucunya, Aswin Azhar Hasibuan, Nadimah Syukrina Hasibuan dan Adlan Anshor Hasibuan. (Ref: Aswin Azhar Hasibuan, S.Ag, SH, SP ~ cucu kandung Tuan Mukhtar).

Penulis sendiri terakhir kali silaturrahmi kepada Tuan Mukhtar pada saat lebaran tahun 2004. Tuan Mukhtar ini merupakan kawan seperjuangan nenek penulis ( HM Ali Idris Lubis ) di organisasi NU. 

Ayahanda dan Ibunda penulis juga banyak mendapatkan ilmu, nasehat dan wejangan dari beliau khusus tentang ke-NU-an yang bersandar pada Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja NU) pada saat Ayahanda bertanya di Kecamatan Barumun.

Artikel singkat tentang Syekh H. Mukhtar Muda Nasution yang sepanjang berbicara mengabdikan dirinya dalam membesarkan agama Islam di wilayah Tapanuli bagian Selatan, khususnya Barumun, yang bernafas dengan topik Ahlussunnah Wal Jama’ah yang mengantarkan perempuan ke salah satu Tokoh NU.

Wassalam,

Oleh : Riza Lubis

Penulis