Menu
Warta Mandailing

Proyek Tebing Sungai Aek Pohon, Warga: “Songon Ulok Naipotuk Doma Uida Bangunani”

  • Bagikan
Potret penampakan bangunan perkuatan tebing sungai Aek Pohon di Kelurahan Pidoli, Kecamatan Panyabungan (Syahren)

WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Pekerjaan pembangunan bangunan perkuatan tebing sungai Aek Pohon berlokasi di sungai Aek Pohon, Kelurahan Pidoli Dolok, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang di kerjakan oleh CV. Tangga Batu selaku Kontraktor, dengan masa pelaksanaan 180 (hari kalender), yang bersumber dana dari APBD Provinsi Sumatera Utara tahun anggaran 2021, sebesar Rp. 2.297.021.492,-

Perkuatan tebing sungai sepanjang 270 meter tersebut telah mengalami kerusakan yang cukup parah. Informasi yang dihimpun dari warga sekitar mengatakan proyek tersebut telah rusak sebelum pengerjaan selesai seolah ada pembiaran dari pihak kontraktor dan instansi terkait, padahal dikerjakan pada akhir bulan Juni tahun 2021.

Pantauan di lapangan, bangunan perkuatan tebing sungai Aek Pohon tampak sebahagian dinding tembok bangunan ada yang ambruk dan tampak miring serta berbelok bagaikan seekor ular atau cacing. Hal ini menjadi sorotan publik atas kejadian robohnya bangunan yang baru saja dikerjakan tersebut.

“Songon ulok naipotuk doma uida bangunani (bagaikan seekor ular yang dipukul kulihat bangunan itu),” kata salah seorang warga kepada wartawan, Jumat (14/1/2022).

Ia sangat menyayangkan pekerjaan tersebut, dikatakannya, dana yang dikeluarkan untuk proyek tersebut bukanlah sedikit, namun mengherankan bangunan termasuk baru selesai, sudah hancur.

“Proyek 2 miliar lebih tapi sudah ambruk, ada apa?” katanya bertanya.

Salah seorang aktivis yang juga merupakan pemerhati lingkungan di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Rudi mengkritisi terkait adanya bangunan yang rusak pada dinding tebing sungai Aek Pohon yang ia duga sarat penyimpangan dan sarat korupsi.

“Dinas Sumber Daya Air Cipta Karya dan Tata Ruang UPT SDA Batang Gadis-Batang Natal selaku instansi terkait sangat faham soal kontruksi bangunan ini, apakah pekerjaan itu sudah sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) atau tidak. Bisa jadi kualitas dan kwantitas bahannya tidak sesuai volume, misal adonan semen atau ukuran besi serta kedalaman pondasinya yang tidak sesuai,” paparnya merincikan kualitas bangunan yang ia duga dikerjakan asal-asalan.

Ia meminta pimpinan di instansi terkait meninjau ulang sekaligus melakukan audit terhadap dugaan penyimpangan dana pada proyek bangunan perkuatan tebing sungai Aek Pohon tersebut termasuk pihak rekanan yang seyogyanya memberikan klarifikasi atas sebab akibat kerusakan bangunan tersebut.

“Saya harap hal ini menjadi prioritas pak Gubernur Sumut dan pak Kadis Provinsi untuk monitor ulang pembangunan ini, mengapa seolah proyek ini dibiarkan. Menurut saya, apabila salah satu pekerjaan mengalami kerusakan yang parah, itu masih menjadi tangung jawab kontraktor pelaksana, selaku rekanan dinas. Namun, apabila ditemukan adanya pengurangan kualitas mutu pekerjaan, itu sangat fatal sekali dan beresiko berproses hukum,” ungkap pria penyandang gelar sarjana hukum itu.

Terkait hal ini, Rudi juga menambahkan, dalam waktu dekat akan mengundang konsultan dari swasta untuk melakukan analisa atau kajian ulang baik struktur dan perhitungan pada perencanaan bangunan perkuatan tebing sungai Aek Pohon.

“Jika kita temukan tidak sesuai atau ada kejanggalan, akan kita laporkan ke pihak penegak hukum,” pungkasnya.

Pada pemberitaan sebelumnya, Pihak CV Tangga Batu, Dayat selaku kontraktor pada proyek tersebut saat dikonfirmasi terkait kedalaman pondasi dan pengkajian bangunan perkuatan tebing sungai Aek Pohon mengatakan, kedalaman pondasi mencapai 1,2 meter dan dinding temboknya dari permukaan tanah hingga keatas setinggi 2,5 meter.

“Kalau untuk pengkajian pembangunan dek tersebut kami tidak bisa menjawab, karena yang mengkaji pembangunan tersebut adalah orang dari dinas PSDA,” kata Dayat menjawab pesan wartawan lewat aplikasi whatsappnya.

Lalu, ketika ditanyai apa penyebab bangunan tersebut ambruk dan sebagian bangunan yang tampak retak, pihak kontraktor tidak menjawab atau membalas pesan whatsapp wartawan lagi.

Indra selaku kepala Dinas Sumber Daya Air Cipta Karya dan Tata Ruang UPT SDA Batang Gadis-Batang Natal belum memberikan keterangan resmi saat dihubungi melalui selulernya hingga berita ini ditayangkan. (Tim)

  • Bagikan