Janji Gus Irawan untuk Aek Nabara: Jangan Ada Lagi Ibu Hamil Harus Ditandu Puluhan Kilometer

WARTAMANDAILING.COM, Tapanuli Selatan – Perjalanan panjang, berat, dan penuh tantangan baru saja ditempuh Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel), H. Gus Irawan Pasaribu, menembus kawasan terisolir Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse.

Medan yang terjal, licin, dan terhimpit di tengah hutan lindung membuat lokasi ini nyaris tak terjamah kendaraan bermotor. Bahkan warga setempat mengaku, sepanjang sejarah berdirinya Kabupaten Tapsel, baru kali ini ada seorang Bupati yang berani dan berhasil datang langsung ke tempat tinggal mereka.

Kunjungan ini dilakukan tepat setelah peristiwa memilukan yang menyita perhatian publik, seorang ibu hamil bernama Tuti Daulay harus ditandu warga sejauh puluhan kilometer demi mencapai fasilitas kesehatan, namun sayang janin yang dikandungnya tidak tertolong.

Kabar itu viral dan menjadi titik balik perhatian penuh pemerintah daerah terhadap nasib warga di pelosok ini.

Usai melantik 67 Penjabat Kepala Desa dan 2 Kepala Desa PAW, Rabu (13/5/2026), Gus Irawan didampingi Wakil Bupati H. Jafar Syahbuddin Ritonga membeberkan kepada awak media kondisi nyata yang dihadapi warga, serta dua jalan keluar utama yang kini sedang diperjuangkan keras oleh Pemerintah Kabupaten Tapsel.

Desa Dalihan Natolu sendiri hanya berpenduduk sedikit, terbagi dalam tiga dusun. Di antaranya, Dusun Nanggoluan (7 KK), Dusun Tano Ponggol sebagai pusat pemerintahan desa (35 KK), dan Dusun Aek Nabara yang menjadi sorotan utama (19 KK).

Meski jumlah warga tak banyak, tantangan yang mereka hadapi sangat besar karena terputus dari akses dunia luar.

Bacaan Lainnya

“Medan ke sana luar biasa berat. Saya berangkat dari Kantor Bupati Selasa pagi pukul 10.00 WIB, dan baru bisa kembali ke rumah dinas Rabu dini hari sekitar pukul 05.00 WIB. Butuh waktu hampir 20 jam bolak-balik hanya untuk memastikan kondisi di sana langsung terlihat mata sendiri,” ungkap Gus Irawan.

Melihat kondisi yang memprihatinkan itu, Bupati merumuskan dua opsi strategis untuk mengakhiri keterisolasian warga. Opsi pertama adalah pemindahan atau relokasi warga ke lokasi yang lebih mudah dijangkau dan memiliki akses layanan memadai. Namun, langkah ini menemui kendala besar dari sisi kearifan lokal.

“Kami sudah ajukan wacana relokasi, tapi belum mendapat tanggapan positif secara menyeluruh. Memang ada anak muda yang ingin pindah demi kemudahan hidup, tapi bagi warga tua, ikatan mereka ke tanah itu sangat kuat. Istilah adatnya, ‘pusar dan pusaranya sudah ada di sana’. Artinya, hidup dan sejarah leluhur mereka tertanam di tanah itu, sangat sulit untuk ditinggalkan,” jelasnya.

Melihat sulitnya memindahkan warga, kini fokus utama beralih ke opsi kedua, yakni memohon izin khusus ke pemerintah pusat untuk membuka akses jalan terbatas di kawasan hutan lindung.

Status kawasan sebagai hutan lindung membuat peraturannya sangat ketat, dan upaya membuka jalan sebelumnya lewat program TMMD tahun lalu terpaksa dibatalkan karena tak ada izin. Program serupa akhirnya dialihkan ke Desa Pasir Bidang yang masuk kategori hutan produksi.

“Kami tidak berniat merusak lingkungan. Kami hanya minta izin untuk membuat rabat beton atau jalan setapak yang cukup dilalui sepeda motor atau kendaraan roda tiga. Sekecil apa pun akses itu, dampaknya akan sangat besar bagi kehidupan mereka. Ini mutlak butuh persetujuan pemerintah pusat, karena kewenangan ada di tangan mereka,” tegas Gus Irawan.

Selain masalah jalan, persoalan krusial lain yang disorot adalah ketersediaan tenaga kesehatan. Dulu ada bidan yang bertugas di sana, namun petugas tersebut kini telah lolos seleksi PPPK dan bertugas di wilayah lain.

Solusi yang disiapkan Pemkab adalah mengeluarkan surat penugasan khusus, bukan mutasi. Pihaknya akan mendekati mantan bidan tersebut, yang kebetulan merupakan putri asli desa namun kini menetap di Batang Toru, dengan mengedepankan rasa cinta kampung halaman agar bersedia kembali mengabdi.

“Kami juga menyiapkan langkah jangka panjang: mendorong anak-anak asal Dalihan Natolu yang bersekolah di bidang kesehatan, agar kelak mereka kembali dan bertugas di kampung sendiri. Itu solusi paling tepat karena mereka paham medan dan punya ikatan batin dengan warga,” tambahnya.

Sebelum meninjau lokasi, Gus Irawan sempat menyambangi Tuti Daulay, ibu hamil yang mengalami musibah evakuasi itu di kediaman keluarganya di Pining Nabaris, dekat Pasar Sipirok.

Gus menyampaikan belasungkawa mendalam dan memberikan bantuan tali asih. Kunjungan langsung ke lokasi kejadian dilakukan agar pemerintah benar-benar paham kesulitan yang selama ini disembunyikan oleh jalan yang terputus.

Kini, harapan 19 Kepala Keluarga di Aek Nabara dan seluruh warga Dalihan Natolu bertumpu pada izin dari pemerintah pusat. Masyarakat berdoa agar akses jalan segera dibuka, agar tragedi kehilangan nyawa akibat sulitnya akses kesehatan tidak pernah terulang lagi di tanah Tapanuli Selatan. (r)

Contoh Gambar di HTML

Pos terkait