Dua bocah perempuan malang kakak beradik Stefani (13) dan Melani (7) yang mengalami kebutaan sejak lahir (foto: Istimewa)

WARTAMANDAILING.COM, Tapanuli Selatan – Miris sekali, minimnya perhatian Pemerintah, ketika masuk kerumah kontrakan kayu yang ada hanya tikar dan lemari yang sudah usang, tampak dua bocah perempuan malang kakak beradik Stefani (13) dan Melani (7) sedang duduk lesu diatas ayunan kain yang berdomisili di Desa Huta Pardomuan, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kedua kakak beradik ini lahir dalam keadaan buta dan kondisi ekonomi orang tua yang miskin. Erita Hutabarat (43), ibunda kedua bocah perempuan manis itu memperlihatkan putrinya yang mengenakan baju lama yang tak muat dibadan lagi, dengan nada suara yang serak karena menahan tangisnya.

“Inilah kedua putriku yang malang, sejak lahir buta dan sudah besar begini juga tak bisa berjalan.” Kata Erita, sebagaimana dilansir dari Medanmerdeka.com, Minggu (22/3/2020).

Orang tua kedua bocah ini, Erita Hutabarat dan Maralem Sipahutar (48) memiliki empat anak, yakni anak pertama Irfan (15) yang bersekolah di SMK N 2 Huraba, anak kedua Didion (13) bersekolah di SMP N 1 Sayur Matinggi, anak ketiga dan ke empat Stefani dan melani.

Erita dan Maralem sendiri bekerja sebagai penggarap sawah orang dengan penghasilan Rp. 50 Ribu/Hari itupun apabila ada panggilan untuk mencangkul sawah.

Erita mengatakan, jika dirinya sedang ada pekerjaan mencangkul sawal orang maka terpaksa dia membawa anaknya Melani kesawah dengan mamapahnya dan stefani sendiri ditinggal dirumah begitu saja pada pagi hari dan baru berjumpa menjelang malam.

“Pagi saya tinggalkan kakaknya (Stefani) tanpa ada yang jaga karena saya bekerja dan anak tertua sekolah, baru setelah kakaknya pulang jam 4 sore barulah stefani makan dan minum.

“Sedangkan adeknya (Melani) saya bawa kesawah dan saya letakkan di pondok sawah atau di bawah pohon sepanjang saya mencangkul. Gitulah bang sepanjang 13 tahun ini” ucap perempuan dengan sesekali mengusap air matanya.

Erita menambahkan, dirinya baru mendapatkan kartu KIS seminggu yang lalu itupun untuk Melani saja yang diberikan kepala desa.

Saat awak media menanyakan apakah selama ini ada perhatian pemerintah termasuk dinas kesehatan datang mememantau dan memeriksa kedua putrinya, erika dan keluarganya sama sekali terabaikan.

“Sejak lahir baru tiga kali saya bawa mereka berobat ke dokter dengan biaya sendiri. sekarang saya tidak sanggup lagi. Kalau mereka sakit saya beli obat diwarung,” terang erika.

Sedangkan dua anaknya laki-laki lahir dengan kondisi normal yang kini bersekolah di SMK 2 Huraba kelas 1 dan SMP N 1 Sayur Matinggi kelas 2, Irfan dan Didion, tidak pernah mendapatkan perhatian pemerintah meski kondisi keluarganya yang miskin dan tinggal dirumah kontrakan kayu tersebut harus bersekolah susah payah.

“Ngak pernah kami terima itu bantuan siswa miskin, kami ngak ngerti persyaratannya dan kenapa kami tidak dimasukkan. Ya beginilah kami berjuang aja meski tanpa perhatian” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Huta Pardomuan Jepri Sianipar, saat di sambangi dirumahnya untuk meminta keterangan terkait minimnya perhatian pemerintah, sedang berada tugas luar dalam acara PPS.(wm/Iwan/MedanMerdeka.com)