WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal — Di tengah geliat pembangunan yang terus digaungkan, kondisi berbeda justru terlihat di kawasan Jalan Jembatan Merah Muara Soma, tepatnya di Saba Bolak Sopo Tinjak, Kecamatan Batang Natal. Akses jalan di wilayah ini masih jauh dari kata layak, menyisakan cerita panjang tentang harapan warga yang belum sepenuhnya terjawab.
Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi aktivitas masyarakat kini berubah menjadi jalur yang penuh tantangan. Permukaan yang rusak, berlubang, dan berlumpur saat hujan membuat mobilitas warga terhambat. Tak jarang, kendaraan roda dua maupun roda empat harus ekstra hati-hati agar tidak terperosok.
Bagi para pengguna jalan, kondisi ini bukan hal baru. Mereka telah lama hidup berdampingan dengan jalan yang memprihatinkan. Setiap hari, aktivitas seperti pergi ke kebun, mengantar anak ke sekolah, hingga membawa hasil panen ke luar kota menjadi lebih sulit dan memakan waktu.
“Kalau hujan turun, jalan ini hampir tidak bisa dilalui. Kami sering terjebak di tengah jalan,” ungkap salah seorang warga lewat sambungan telepon, Selasa (21/4/2026), menggambarkan kondisi yang mereka hadapi.
Mirisnya, pemandangan mobil truk yang terperosok ke jurang di jalur penghubung pusat kabupaten tersebut bukan lagi hal yang mengejutkan. Kondisi ini disebut telah berlangsung sekitar lima bulan terakhir. Warga menilai, hal itu terjadi akibat belum adanya perbaikan jalan pascabencana yang sebelumnya sempat merusak akses utama di wilayah tersebut.
Akibat rusaknya akses jalan di kawasan Jembatan Merah Muara Soma ini, dampaknya juga dirasakan oleh para pelajar. Tak jarang, anak-anak sekolah terlambat masuk, baik yang berasal dari arah Natal menuju Panyabungan maupun sebaliknya. Kondisi ini menambah beban masyarakat, khususnya bagi orang tua dan siswa yang harus berjibaku dengan keterbatasan akses setiap harinya.
Menurut warga, untuk hari ini saja, sekitar lima puluh kendaraan terjebak antrean panjang dan tidak dapat melintas akibat sebuah mobil truk yang terperosok ke jurang di badan jalan. Situasi tersebut semakin memperparah kemacetan dan menghambat aktivitas masyarakat secara luas.
Tak hanya berdampak pada aktivitas harian, kondisi jalan ini juga berpengaruh terhadap perekonomian warga. Biaya transportasi meningkat, distribusi hasil pertanian terhambat, dan akses terhadap layanan penting menjadi terbatas.
Ironisnya, di saat wilayah lain mulai menikmati infrastruktur yang lebih baik, warga dari wilayah pantai barat masih harus berjuang dengan kondisi yang jauh tertinggal. Harapan akan perbaikan jalan terus disuarakan, namun hingga kini belum terlihat langkah nyata yang signifikan.

Mobil Truck Cold Diesel Terpuruk di Titik Jalan Jembatan Merah Muarasoma.
Warga berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dapat segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi ini. Mereka menginginkan pembangunan yang merata, agar tidak ada lagi daerah yang tertinggal hanya karena akses jalan yang tidak memadai.
Bagi masyarakat Mandailing Natal, jalan bukan sekadar sarana penghubung, tetapi juga simbol kehadiran negara. Ketika akses itu terabaikan, yang terasa bukan hanya sulitnya perjalanan, tetapi juga minimnya perhatian yang mereka rasakan selama ini. (Has).
