WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal — Di tengah denyut aktivitas kota yang terus bergerak, ada pemandangan yang luput dari perhatian namun terasa mengganggu: baliho-baliho rusak yang masih berdiri di sejumlah pulau jalan. Robek, pudar, bahkan sebagian rangkanya tampak miring, menjadi kontras dengan harapan akan wajah kota yang rapi dan tertata.
Di beberapa titik strategis, baliho yang semestinya menjadi media informasi dan promosi justru berubah menjadi “sampah visual”. Kain yang terkelupas ditiup angin, rangka besi yang berkarat, serta gambar yang tak lagi utuh menciptakan kesan kumuh. Alih-alih memperindah, keberadaannya justru merusak estetika kota Panyabungan.
Warga setempat mengaku risih dengan kondisi tersebut. “Kalau malam, apalagi kena lampu kendaraan, kelihatan sekali rusaknya. Seperti tidak ada yang peduli,” ujarnya, kamis (23/4/2026).
Ia menilai, baliho-baliho itu seharusnya segera ditertibkan atau diperbaiki agar tidak menjadi pemandangan yang mengganggu.
Fenomena ini tidak hanya soal keindahan, tetapi juga mencerminkan tata kelola ruang publik. Kota yang tertata biasanya ditandai dengan elemen visual yang terjaga, termasuk media luar ruang seperti baliho. Ketika baliho rusak dibiarkan terlalu lama, muncul kesan pembiaran dan kurangnya pengawasan.
Di sisi lain, keberadaan baliho juga berkaitan dengan izin dan tanggung jawab pihak tertentu. Pertanyaannya, siapa yang seharusnya memastikan kondisi baliho tetap layak? Apakah pemilik, pengiklan, atau pemerintah daerah? Ketidakjelasan ini kerap menjadi celah yang membuat persoalan berlarut tanpa penanganan.
Tak sedikit warga berharap ada langkah konkret dari pihak berwenang. Penertiban, peremajaan, atau bahkan penataan ulang lokasi baliho dinilai perlu dilakukan. Selain menjaga estetika, langkah ini juga bisa meningkatkan kenyamanan pengguna jalan serta memperkuat citra kota.
Panyabungan, sebagai pusat aktivitas di Mandailing Natal, tentu memiliki potensi untuk tampil lebih tertata dan menarik. Namun, hal-hal kecil seperti baliho rusak yang dibiarkan justru bisa menjadi detail yang merusak keseluruhan wajah kota.

Baliho rusak dibiarkan di pulau jalan kota Panyabungan.
Ketika kota lain berlomba mempercantik ruang publiknya, Panyabungan dihadapkan pada pilihan: membiarkan kondisi ini terus berlangsung, atau mulai berbenah dari hal-hal yang tampak sederhana.
Sebab pada akhirnya, wajah kota bukan hanya soal bangunan megah atau jalan yang lebar, tetapi juga bagaimana setiap sudutnya dirawat dengan kesadaran dan tanggung jawab bersama. (Has)





