Aladdin Rambe (61), pemilik kios Rujak Pak Rambe beralamat di Jl. Imam Bonjol disamping loket mini bus Idola, Padang Matinggi, Kota Padangsidimpuan (foto: Istimewa)

WARTAMANDAILING.COM, Padangsidimpuan – Siapa tak kenal dengan Rujak Pak Rambe ciri khas Tapanuli Selatan (Tapsel), yang sekarang beralamatkan di Jl. Imam Bonjol, Kelurahan Padang Matinggi, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan. Berdiri sejak tahun 1990, paduan buah dengan bumbu kuahnya banyak diminati bagi kalangan pecinta rujak.

Jika dinikmati dan diresapi, ada rasa yang berbeda pada adonan bumbu rujak Pak Rambe, yakni campuran pisang siolot (pisang lilin) yang mana jarang digunakan penjual rujak pada umumnya, sehingga menjadi rasa ciri khas pada bumbu kuah rujak tersebut.

Aladdin Rambe (61) pemilik warung Rujak Pak Rambe menceritakan, awal mula dia berjualan rujak yaitu pada tahun 1990 hingga saat ini. Sebelumnya, ia berjualan rujak di pasar Inpres Padang Matinggi yang pada saat itu kiosnya masih ia sewa.

“Awalnya saya berjualan di kios pasar Inpres Padang Matinggi, selama 4 tahun (tahun1990 – 1994). Setelah itu, saya jualan pakai gerobak secara berpindah-pindah di sekitar Padang Matinggi ini juga dan pada tahun 2015 saya menetap jualan rujak di kios ini,” tutur pak Rambe sapaan akrab Aladdin Rambe.

Dipaparkan, dari harga Rp 1.500 sampai dengan harga Rp 7.000 per porsinya terhitung sejak dari tahun 1990 hingga tahun 2021. Selama 31 tahun penghasilan dari berjualan rujak ia membutuhi keluarganya. Saat ini, Pak Rambe memiliki tiga anak dan lima cucu.

“Sudah 31 kali bulan puasa Ramadhan lah umur batu penggilingan bumbu rujak ini, segitulah masa saya berjualan rujak,” singkat pria kelahiran Batangtoru itu sambil menunjukan batu penggilingan bumbu kuah rujak yang ia gunakan.

Kisah Inspiratif dari si Penjual Rujak Pak Rambe

Diawali dengan menikmati rujak yang dipesan olahan Pak Rambe, penulis tidak sengaja berinteraksi dengan saling berkenalan di kios rujaknya. Dari obrolan itulah terungkap kisah inspiratif dalam keadaan yang tidak terduga sekalipun.

Pak Rambe ternyata dulunya seorang Kapten Kapal kayu ekspor yang berpusat kantor di Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Selama 12 tahun ia mengarungi lautan antar negara dengan menakhodai berbagai jenis kapal.

Pria kelahiran Batangtoru tahun 1960 itu mengisahkan, lima tahun sebelum dia menghabiskan masa lajangnya ia kerap singgah di pangkalan dekat pelabuhan yang berketepatan ada penjual rujak. Terkadang ia sering memperhatikan si penjual rujak dalam mengolah buah dan bumbunya.

“Setelah menikah, selama tujuh tahun, dalam setiap saya pulang dari kampung (selesai cuti), saya sering membawa buah nenas sebagai bentuk oleh-oleh ke si penjual rujak. Terkadang saya bawakan 50 buah untuk dia, dari keseringan itulah saya coba belajar dari si penjual rujak cara memotong buah-buahan serta mengolah bumbu kuah rujak,” beber Pak Rambe yang mengaku pernah memakai resep bumbu kuah rujaknya selama enam bulan setelah berjualan.

Mencoba mengadu nasib dengan berjualan rujak usai mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai Kapten Kapal, memiliki alasan tersendiri bagi Pak Rambe, yaitu ada hal krusial yang dirasakannya semenjak menikah dan memiliki dua orang anak pada saat itu.

Selain merasa nyawa terancam, batin yang tersiksa juga menjadi alasan baginya untuk meninggalkan pekerjaan sebagai pelaut dan hal itu ia putuskan secara resmi ke perusahaan kapal yang dinakhodainya pada tahun 1989 lalu.

“Setelah menyelesaikan kontrak kerja, dan setelah saya resmi meninggalkan pekerjaan sebagai nakhoda kapal, saya kembali pulang ke keluarga, kemudian mencoba menyambung hidup bersama anak istri di Sidimpuan ini, dari tahun 1990 dengan berjualan rujak,” pungkas Kakek dari lima cucu itu.

Singkat cerita, merunut kisah awal dirinya diterima di perusahaan kapal dengan hanya mengandalkan ijazah Sekolah Dasar (SD) sampai meninggalkan pekerjaan tersebut kemudian melanjutkan hidup baru sebagai penjual rujak, upaya itu dilakukannya dengan prinsip, hidup selalu jujur dengan terus berusaha.

“Utamakan kejujuran dan selalu beristikharah, ikhtiar serta tekun dalam kehidupan,” tutup Pak Rambe dengan senyum mengisyaratkan kalimat itu sebagai nasehat dan motivasi kepada penulis.

Di waktu yang singkat, tidak terhitung pembeli yang bergonta ganti datang ke warung Rujak Pak Rambe, inti dari pembicaraan perjalanan dan perkembangan usaha warung Rujak Pak Rambe ini, menurut penulis tentunya memberi inspirasi bagi penulis dan pembaca nantinya.

Sepenggal obrolan yang diamati penulis dari kisah tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan yang menjadi inspirasi bagi kita, diantaranya: