WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal — Krisis pengelolaan irigasi mulai dirasakan para petani ikan di sejumlah wilayah. Minimnya peran juru pengairan (jupeng) di sal kanan irigasi membuat para petani harus turun langsung mengambil air ke pintu irigasi demi menjaga kelangsungan usaha mereka.
Sejumlah petani mengaku kesulitan mendapatkan aliran air yang stabil ke kolam mereka. Padahal, air menjadi faktor utama dalam budidaya ikan. Tanpa suplai yang cukup, pertumbuhan ikan terganggu bahkan berpotensi mengalami kematian massal.
“Biasanya ada yang mengatur pembagian air, tapi sekarang kami harus jemput sendiri ke pintu irigasi. Kalau tidak begitu, kolam bisa kering,” ujar Bang Lobe seorang petani ikan, Selasa (28/4/2026).
Kondisi ini tidak hanya menyita tenaga, tetapi juga waktu. Para petani harus bolak-balik memastikan aliran air tetap masuk ke kolam mereka. Di sisi lain, aktivitas tersebut seharusnya menjadi tanggung jawab petugas pengelola irigasi.
Warga menduga, tidak optimalnya fungsi jupeng menjadi penyebab utama persoalan ini. Selain itu, kurangnya pengawasan dari pihak terkait juga dinilai memperparah keadaan.
Akibatnya, distribusi air menjadi tidak merata. Petani yang berada jauh dari sumber irigasi harus bekerja lebih keras dibandingkan mereka yang berada di dekat pintu air.
Lebih parah lagi, kurangnya pasokan air ke wilayah Panyabungan Jae, Panyabungan Julu, dan Panyabungan Tonga berdampak langsung pada keberlangsungan budidaya ikan. Sejumlah petani mengaku bibit ikan di kolam mereka mati akibat kekurangan air yang berkepanjangan.
Terpantau, di pintu irigasi yang berada di Kelurahan Pidoli Dolok, tumpukan kayu dan sampah terlihat menumpuk sehingga aliran air ke hilir tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Parahnya, kondisi tersebut disebut sudah berlangsung cukup lama. Namun, petugas irigasi dinilai tidak pernah melakukan pembersihan. Akibatnya, para petani ikan yang mewakili tiga desa tersebut terpaksa turun langsung ke lokasi untuk membersihkan pintu irigasi yang tersumbat oleh kayu dan sampah.
Para petani berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk menertibkan sistem pengelolaan irigasi. Mereka menilai, kehadiran jupeng yang aktif dan bertanggung jawab sangat dibutuhkan agar distribusi air dapat berjalan adil dan lancar.

Tampak sampah hanyut saat dibersihkan petani di pintu air irigasi Pidoli.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin para petani ikan akan mengalami kerugian besar. Bahkan, sebagian di antaranya mengaku terancam menghentikan usaha budidaya karena kesulitan air yang berkepanjangan. (Has)
