WARTAMANDAILING.COM, Padangsidimpuan – Nama besar Kota Padangsidimpuan pernah terukir indah lewat sebuah karya seni pertunjukan yang memikat hati ribuan penonton di seluruh Indonesia pada dekade 90-an.
Berjudul “Perempuan dari Sidimpuan”, sinetron atau drama produksi Televisi Republik Indonesia (TVRI) tahun 1992 silam kini kembali menjadi perbincangan hangat dan kenangan indah bagi masyarakat, sekaligus menyisakan rasa penasaran lantaran jejak rekamnya sulit ditemukan di dunia maya.
Karya yang digarap oleh alm. Burhan Pohan, putra daerah asli Padangsidimpuan ini, mengangkat kisah berlatar budaya dan kearifan lokal masyarakat Batak Angkola-Mandailing.
Di era tersebut, TVRI kerap menayangkan drama-drama bernuansa daerah sebagai wujud nyata pelestarian kekayaan budaya bangsa, dan “Perempuan dari Sidimpuan” menjadi salah satu primadona yang sangat populer saat itu.
Kini, banyak warga masyarakat yang mengeluhkan dan bertanya-tanya mengapa tidak ditemukan lagi arsip, cuplikan, maupun potongan adegan dari karya legendaris tersebut di berbagai platform media sosial maupun internet.
Menanggapi hal itu, salah satu aktor utama yang berperan dalam drama tersebut, Tantawi Panggabean, angkat bicara. Pria kelahiran Medan, 1955, yang telah menetap dan berdomisili di Padangsidimpuan selama 47 tahun terakhir ini membenarkan dirinya beradu akting bersama aktris ternama Tetty Liz Indrianty sebagai pemeran utama perempuan.
Menurut Tantawi, kendala utama yang membuat karya ini sulit dinikmati kembali oleh generasi sekarang adalah keterbatasan arsip yang tersimpan.
“Arsip lengkap maupun cuplikan drama tersebut hingga saat ini masih sepenuhnya menjadi milik dan tersimpan di gudang arsip pihak TVRI. Kami pun terus berupaya dan berikhtiar untuk bisa mendapatkan hak akses atau salinan arsip tersebut, agar bisa kembali ditayangkan ulang dan dinikmati oleh publik serta para penggemar setianya,” ungkap Tantawi saat ditemui, menceritakan kembali nostalgia emasnya bersama karya tersebut.
Lebih jauh, aktor senior yang pernah membintangi film produksi TVRI Stasiun Medan ini menyampaikan harapan besarnya. Baginya, kehadiran karya “Perempuan dari Sidimpuan” seharusnya menjadi tonggak sejarah dan pemicu semangat bagi para seniman muda maupun pelaku seni di daerah ini.
“Harapan kami yang paling besar setelah hadirnya karya indah ini, semoga akan terus lahir karya-karya selanjutnya. Karya seni, film, atau drama yang kembali mengangkat dan membawa nama besar daerah kita, Padangsidimpuan, ke kancah yang lebih luas, seperti yang pernah kami lakukan dulu,” ujarnya.
Selain “Perempuan dari Sidimpuan”, kekayaan budaya Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Padangsidimpuan juga pernah diangkat dalam karya besar lainnya berjudul “Azab dan Sengsara” pada tahun 1994.
Diadaptasi dari novel klasik karya Merari Siregar yang lahir di Sipirok, Tapsel, sinetron ini disyuting langsung di lokasi asli cerita agar nuansa sejarah dan suasana adat tahun 1890-an terasa nyata.
Sayangnya, sama halnya dengan karya sebelumnya, dokumentasi detail produksi TVRI masa itu sangat terbatas terekam di internet. Padahal, sinetron ini cukup fenomenal dengan mengangkat kisah adat warisan dan pernikahan yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat saat itu.
Beberapa nama aktor yang diperkirakan terlibat dalam produksi ini antara lain Tantawi Panggabean sendiri, Arthur Tobing, Raynaldi Surbakti, Sherly Marcelina, hingga Diana Yusuf yang disutradarai Edward Pesta Sirait dengan lokasi syuting di Bagas Godang Sipirok.
Karena minimnya rekaman digital, jejak karya emas tersebut kini hanya bisa ditemukan di tempat-tempat penyimpanan resmi seperti arsip TVRI Sumatera Utara Medan, Dinas Kebudayaan setempat, maupun ingatan warga lokal yang pernah terlibat saat proses syuting berlangsung.
Tak sedikit pula kolektor pribadi atau komunitas pencinta karya seni lama yang masih menyimpannya dalam pita kaset rekaman.
Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya pelestarian karya seni budaya daerah. Keberadaan karya seperti “Perempuan dari Sidimpuan” dan “Azab dan Sengsara” bukan sekadar hiburan, melainkan identitas sejarah, bukti bahwa Padangsidimpuan dan Tapsel memiliki kekayaan cerita dan budaya yang mampu mengharumkan nama daerah di kancah nasional.
Hingga kini, masyarakat dan pencinta seni masih menanti langkah nyata pelestarian, agar cerita-cerita indah masa lalu tidak hilang ditelan zaman, namun bisa menjadi inspirasi lahirnya karya-karya baru yang lebih hebat dan membanggakan. (Nas)

