Akses Pendidikan Tinggi Jadi Tantangan: Waktu Hadirkan Beasiswa Berkelanjutan

Oleh: Armadani Harahap
Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

WARTAMANDAILING.COM, Padang Lawas Utara – Kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi bagi generasi muda di Kabupaten Padang Lawas Utara masih menjadi tantangan utama yang membutuhkan perhatian serius.

Di tengah kebutuhan akan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerhati pendidikan mendesak pemerintah daerah menyediakan program beasiswa yang berjalan terus-menerus bagi siswa dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Saat ini, tingkat partisipasi pendidikan di jenjang menengah atas masih tergolong rendah. Sebagian besar anak usia sekolah sudah mengikuti pendidikan sesuai jenjangnya, namun masih ada bagian yang belum dapat melanjutkan hingga tamat sekolah menengah.

Begitu pula dengan jenjang pendidikan tinggi. Jumlah penduduk yang berhasil menempuh pendidikan di perguruan tinggi masih jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah warga yang hanya tamat pada jenjang sekolah menengah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju pendidikan tinggi masih menghadapi berbagai kendala, terutama karena faktor ekonomi.

Salah satu gambaran nyata terlihat dari pengalaman Rizal (nama disamarkan), seorang lulusan sekolah menengah yang memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan kuliah.

Bacaan Lainnya

Namun, keterbatasan biaya membuatnya harus mengurungkan niat dan memilih bekerja untuk membantu kebutuhan keluarga.

“Saya sangat ingin melanjutkan pendidikan, tapi kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan. Setelah lulus sekolah, saya harus bekerja karena tidak ada biaya untuk kuliah,” ujarnya.

Menurut Armadani Harahap, pemerhati pendidikan, kasus seperti yang dialami Rizal bukanlah hal yang jarang terjadi. Masih banyak anak muda di daerah ini yang memiliki kemampuan dan prestasi baik, namun terpaksa menghentikan pendidikan hanya karena tidak mampu membiayainya.

“Jangan sampai potensi anak daerah terbuang sia-sia hanya karena soal biaya. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, yang hasilnya akan dirasakan kemajuan daerah ini dalam waktu puluhan tahun mendatang,” katanya.

Ia menegaskan bahwa program beasiswa sebaiknya dipandang sebagai upaya membangun kualitas manusia, bukan sekadar pengeluaran rutin belanja daerah.

Menurutnya, jika pemerintah menyediakan anggaran sekitar Rp2 miliar setiap tahunnya untuk program ini, jumlah tersebut sebenarnya sangat kecil dibandingkan total kemampuan keuangan daerah.

Sebagai gambaran, anggaran keseluruhan daerah saat ini mencapai lebih dari Rp1 triliun, sehingga alokasi untuk beasiswa hanya berupa bagian yang sangat kecil namun dampaknya sangat luas.

“Dua miliar rupiah terlihat besar secara angka, tapi jika dibandingkan dengan total anggaran daerah, nilainya sangat kecil. Sebaliknya, manfaatnya sangat besar karena bisa membuka kesempatan bagi ratusan bahkan ribuan anak untuk melanjutkan pendidikan,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya dilihat dari banyaknya bangunan fisik yang berdiri, tetapi juga dari kemampuan melahirkan generasi yang terdidik, terampil, dan siap bersaing.

“Daerah butuh tenaga profesional seperti dokter, guru, insinyur, dan tenaga ahli lainnya untuk bergerak maju. Semua itu lahir dari pendidikan. Oleh sebab itu, kepedulian terhadap pendidikan harus diwujudkan dalam kebijakan nyata, salah satunya melalui program beasiswa,” tegasnya.

Pemerhati pendidikan berharap pemerintah daerah dapat menjadikan program bantuan biaya pendidikan sebagai bagian utama dalam strategi membangun sumber daya manusia, sehingga tidak ada lagi anak muda yang harus mengubur cita-citanya hanya karena keterbatasan ekonomi. (r)

Contoh Gambar di HTML