Antara Takbir dan Kesedihan di Desa Silongun Tanpa Kurban

WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Suara takbir berkumandang dari surau kecil di Desa Silongun. Anak-anak berlarian mengenakan pakaian terbaik mereka, sementara para orang tua duduk di pelataran rumah sambil memandangi jalan desa yang lengang. Namun, ada sesuatu yang berbeda pada Iduladha tahun ini. Tidak terdengar suara sapi ataupun kambing yang biasa memenuhi halaman masjid menjelang penyembelihan kurban.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Desa Silongun yang dihuni 27 kepala keluarga (KK) ini menjalani Hari Raya Iduladha tanpa satu pun hewan kurban.

Padahal, selama empat tahun berturut-turut sebelumnya, selalu ada warga maupun dermawan yang berkurban di desa tersebut. Kehadiran hewan kurban setiap Iduladha telah menjadi bagian dari kebersamaan masyarakat. Anak-anak biasa menunggu di halaman masjid, sementara para orang tua bergotong royong mempersiapkan penyembelihan hingga pembagian daging kepada warga.

Namun tahun ini suasana itu hilang. Tak ada sapi yang ditambatkan. Tak ada kambing yang dibawa ke halaman masjid. Desa Silongun benar-benar tanpa hewan kurban.

Bagi sebagian orang di kota, ketiadaan kurban mungkin hanya dianggap hal biasa. Tetapi bagi warga desa kecil itu, Iduladha tanpa kurban meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan. Sebab, kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan lambang kebersamaan, kepedulian, dan harapan.

“Tahun ini sunyi, tak satu ekor pun hewan kurban di sini,” tutur seorang warga melalui sambungan telepon, Rabu (27/5/2026).

Kondisi ekonomi yang semakin sulit disebut menjadi penyebab utama. Harga kebutuhan pokok naik, hasil panen tidak menentu, sementara sebagian warga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah keadaan itu, niat berkurban akhirnya tertahan oleh keadaan.

Bacaan Lainnya

Beberapa warga sebenarnya sempat berharap ada bantuan kurban dari luar desa. Namun hingga malam takbiran berlalu, harapan itu tak kunjung datang. Masjid yang biasanya ramai dengan persiapan penyembelihan, tahun ini hanya dipenuhi gema takbir dan doa-doa panjang.

Meski tidak ada penyembelihan hewan kurban di desa mereka, warga Silongun tetap merasakan kebahagiaan kecil. Sebab, ada daging kurban yang dibagikan dari Desa Julu, Kecamatan Pakantan, untuk masyarakat Silongun. Bantuan itu menjadi pengobat di tengah suasana Iduladha yang berbeda tahun ini.

“Alhamdulillah masih ada yang peduli. Walau bukan dari desa sendiri, kini sebagian masyarakat sudah pergi untuk menjemputnya. Kami sangat bersyukur,” ujarnya.

Warga pun berusaha menjaga suasana hari raya dengan sederhana. Mereka saling mengunjungi, makan bersama seadanya, dan saling menguatkan agar tidak larut dalam kesedihan.

Di balik sunyinya Iduladha tanpa kurban itu, tersimpan kenyataan yang lebih dalam tentang perjuangan hidup masyarakat desa. Tentang warga yang tetap tersenyum meski keadaan tidak berpihak. Tentang orang-orang yang masih memilih berbagi walau mereka sendiri serba kekurangan.

Tak ada sapi yang ditambatkan. Tak ada kambing yang disembelih. Namun gema takbir tetap berkumandang di langit Desa Silongun, membawa doa agar tahun depan keadaan berubah dan halaman masjid kembali dipenuhi hewan kurban serta tawa masyarakat.

Sebab bagi warga Silongun, harapan belum pernah benar-benar hilang. (Has).

Contoh Gambar di HTML