Ohayo Jepang (foto: Istimewa)

WARTAMANDAILING.COM, Tokyo – Setelah China luluh lantah dengan banyaknya korban jiwa akibat agresi Virus Corona COVID-19, beberapa negara kini juga dibuat ketar-ketir.

Salah satu negara yang kini potensial menjadi ‘jajahan baru’ Virus Corona COVID-19 adalah Jepang. Kenapa?

Ya, peringatan mengenai ancaman Virus Corona yang bakal menyasar Jepang ini justru ramai disampaikan beberapa media di China, negara tempat asal virus ini mewabah seperti dilansir dari Viva.co.id, Rabu (19/2/2020).

Jepang punya potensi besar bakal jadi ‘Next Wuhan’ yang terdampak virus yang terbilang ‘mematikan’ bukan tanpa alasan.

Tabloid pemerintah China, Global Times, mengatakan banyak pengguna internet yang meragukan Jepang mampu mengontrol dan mengkarantina epidemik dari Virus Corona yang saat ini telah memasuki negara tersebut.

Terlebih, Jepang bakal menjadi negara yang paling sibuk menggelar event internasional. 

“Mereka mengatakan rendahnya pengawasan yang dilakukan pemerintah Jepang pada virus mematikan ini membuat mereka kini terbuka lebar jadi Wuhan selanjutnya atau pusat wabah COVID-19, terlebih dengan penanganan dan pengendalian yang tak tepat waktu pada awalnya,” tulis Global Times. 

Meski Jepang sempat membatalkan beberapa event internasional seperti lari marathon, namun beberapa event besar seperti Olimpiade sepertinya akan tetap digelar di Negeri Sakura tersebut.

Jepang memang akan menjadi tuan rumah Olimpiade yang akan dimulai pada Juli mendatang.

Pemerintah Jepang sendiri kini tengah melakukan berbagai upaya untuk menangkal ekspansi virus yang menyerang saluran pernafasan tersebut.

Hal itu juga diungkapkan Perdana Menteri Shinzo Abe kepada Japan Times menanggapi rumor yang berkembang saat ini.

“Kami akan bekerja sama dengan banyak pemerintah kota dan mempercepat ekspansi kemampuan pengujian dan perlakuan untuk menghentikan virus ini menyebar dan menginfeksi orang,” kata Shinzo Abe.

Sebagai catatan, saat ini telah ditemukan lebih dari 500 kasus Virus Corona di Jepang, dimana lebih dari 450 diantaranya dari penumpang kapal di Yokohama.(wm/Viva)