WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal – Kericuhan terjadi dalam sebuah acara hiburan pesta pernikahan di Desa Buburan, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Rabu (22/7/2026) malam. Sejumlah orang diduga melakukan penganiayaan terhadap kru keyboard, MC, dan penyanyi setelah tidak menerima acara musik dihentikan sesuai jadwal yang telah disepakati.
Menurut keterangan pemilik Jingga Audio Musik, acara hiburan tersebut berlangsung sesuai kesepakatan dengan tuan rumah, yakni mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB. Setelah waktu pertunjukan berakhir, MC dan para penyanyi turun dari panggung sebagai tanda acara selesai.
Namun, situasi berubah ketika beberapa orang yang berada di lokasi meminta agar pertunjukan tetap dilanjutkan. Menyikapi permintaan tersebut, owner Jingga Audio Musik bersama MC, penyanyi, dan pihak penyelenggara akhirnya menyepakati penambahan waktu pertunjukan selama satu jam.
Di saat yang bersamaan, sejumlah penonton diduga mendatangi area alat musik dan meminta kru untuk mengeraskan suara musik. Salah seorang di antaranya bahkan diduga memencet-mencet tuts keyboard secara berulang.
Kru keyboard mengaku telah mengingatkan dengan sopan agar alat musik tersebut tidak dipencet sembarangan karena dikhawatirkan mengalami kerusakan apabila dimainkan secara kasar atau tanpa teknik yang benar. Namun, menurut keterangan pemilik audio, peringatan tersebut tidak diindahkan sehingga kru berusaha mendorong orang tersebut agar menjauh dari peralatan musik.
Peristiwa itu kemudian memicu keributan. Seorang pria yang disebut sebagai kakak dari pemuda tersebut bersama ayahnya diduga naik ke atas panggung dan melakukan penganiayaan terhadap kru keyboard.
Pemilik Jingga Audio Musik juga mengaku kecewa terhadap sikap pemilik pesta saat insiden berlangsung. Menurutnya, di tengah kericuhan yang terjadi, pihak penyelenggara atau pemilik hajatan dinilai tidak menunjukkan upaya untuk melindungi kru maupun para pengisi acara dari amukan massa.
“Saat peristiwa itu terjadi, pemilik pesta seakan tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk melindungi kami dari amukan massa. Padahal kami hadir memenuhi undangan dan bekerja sesuai kesepakatan waktu yang telah ditentukan,” ujar pemilik Jingga Audio Musik.
Akibat kejadian tersebut, kru keyboard mengalami luka cukup serius, termasuk dugaan patah tulang rusuk serta luka lecet di sejumlah bagian tubuh. Korban juga mengaku kehilangan dua unit telepon genggam yang diduga hilang saat insiden berlangsung.
Tidak hanya kru keyboard, satu dari empat anggota PAPPRI Mandailing Natal yang bertugas sebagai MC dan penyanyi juga mengaku menjadi korban kekerasan fisik dan intimidasi. Dalam insiden tersebut, kalung yang dikenakan MC dilaporkan putus setelah diduga ditarik. Bahkan, MC mengaku sempat dicekik oleh salah seorang terduga pelaku.
Akibat peristiwa tersebut, MC dan penyanyi yang tergabung dalam PAPPRI Mandailing Natal mengaku mengalami trauma dan masih merasakan dampak psikologis hingga saat ini.
Selain menimbulkan korban luka, insiden tersebut juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah peralatan milik Jingga Audio Musik. Satu unit keyboard dilaporkan mengalami kerusakan, sementara sejumlah perlengkapan pendukung lainnya juga rusak sehingga mengakibatkan kerugian materi.
Atas peristiwa tersebut, pihak Jingga Audio Musik bersama para korban berencana melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian agar diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Hingga berita ini diterbitkan, identitas para terduga pelaku belum disampaikan secara resmi. Sementara itu, pihak penyelenggara yang disebut dalam pemberitaan belum memberikan keterangan. (Has)
