RASYID ASSAF DONGORAN: Aktivis Hutan yang Merambah Panggung Politik Sumatera Utara

Penulis: Dr. Zainal E. Hasibuan

WARTAMANDAILING.COM, Medan – Dari belantara Batang Toru hingga dinamika politik Tapanuli Selatan, Rasyid Assaf Dongoran memadukan semangat konservasi, kearifan lokal Marsialap Ari, serta ketabahan dalam menghadapi pasang surut arena kekuasaan.

Di balik rimbunnya bentang alam Batang Toru dan hamparan perkebunan kopi Tapanuli Selatan, nama Rasyid Assaf Dongoran bukan sosok asing.

Pria kelahiran Binjai, 6 Februari 1976, ini menempuh jalan hidup yang tak lazim, yaitu dari peneliti biologi, aktivis lingkungan di dalam lumpur hutan, hingga akhirnya memegang tampuk kepemimpinan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tapanuli Selatan.

Berakar dari Aek Bilah hingga Lab Biologi

Darah Rasyid berakar dari dua desa kecil di ujung Aek Bilah, Sihulambu, kampung halaman ayahnya, dan Lobutayas, asal ibunya. Ayahnya, Aslin Dongoran, S.H., merupakan pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan yang purna tugas pada 2004, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga yang membesarkan empat anak.

Pendidikan Rasyid melintasi beberapa kota, yaitu SD Negeri 060851 Medan, SMP Negeri 11 Medan, dan SMA Negeri 2 Bukittinggi. Keterikatannya pada isu lingkungan makin menguat saat menempuh pendidikan S1 Biologi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU) hingga lulus pada 2001, yang kemudian dilanjutkan dengan S2 Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan pada 2010 lewat beasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Di kampus, naluri kepemimpinannya terasah melalui Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dia dipercaya menjabat sebagai Ketua HMI Komisariat FMIPA USU dan Kepala Bidang PPD HMI Cabang Medan. Dari organisasi inilah dia mengasah keahlian orasi dan merajai gagasan bahwa kepedulian lingkungan berjalan seiring dengan nilai-nilai keislaman.

Bacaan Lainnya

Menjaga Orangutan dan Harimau di Bentang Batang Toru dan Batang Gadis

Karier Rasyid tak langsung bersinggungan dengan birokrasi pemerintahan. Selepas kuliah, dia memilih masuk ke dalam hutan. Rasyid mencatatkan rekam jejak sebagai District Coordinator USAID LGSP pada 2003, Market Livelihood Specialist di German Agro Action pada 2006, serta bergabung dengan Islamic Relief di Aceh pascabencana tsunami pada 2008.

Pada 2010, Rasyid mendirikan Sumatra Rainforest Institute (SRI). Lembaga swadaya masyarakat ini berdiri secara mandiri tanpa menyandarkan operasionalnya pada anggaran negara.

SRI tidak pakai dana pemerintah. Kami gaji staf sendiri, kegiatan lapangan sendiri ,” tegas Rasyid.

Selama 10 tahun menjabat sebagai Direktur Eksekutif SRI, Rasyid menjelajahi kawasan seluas 150.000 hektar di bentang alam Batang Toru yang melintasi tiga kabupaten: Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah. Kawasan ini merupakan habitat utama orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies yang baru diakui secara ilmiah pada 2017 dan kini hanya tersisa sekitar 600 ekor, serta satwa langka lain seperti harimau Sumatera, beruang madu, dan rangkong.

Ketegasannya diuji saat bersuara keras menuntut perusahaan tambang G-Resources, yang menguasai konsesi seluas 1.639 kilometer persegi, untuk menjaga kelestarian habitat orangutan.

Sejak tahun 2000 hingga 2026 kini, jika dihitung, jutaan pohon telah tertanam berkat kecerdasan dan terobosan gagasan Rasyid Assaf Dongoran.

Bagi lembaga donor dan pendana internasional, gagasan yang genuine dan memiliki kebaruan (novelty) menjadi syarat utama. Lewat gagasan serta konsep pemikiran Rasyid yang disetujui oleh berbagai lembaga pendana itulah, jutaan pohon berhasil dihadirkan dan menghijaukan kembali belantara Sumatera.

Menanggalkan PNS dan Tradisi Marsialap Ari

Meski sempat diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN) pada 2007, Rasyid mengambil keputusan berani dengan mengundurkan diri pada 2014. Langkah yang dinilai nekat oleh sebagian pihak ini dilakukannya demi kembali aktif di Partai Golkar, partai yang telah diikutinya sejak menjadi Kepala Tata Usaha di Tapanuli Tengah pada 2001.

Karier politiknya merambat dari Wakil Sekretaris DPD Kabupaten di Tapteng, masuk ke Jenjang Propinsi seperti Ketua Biro Lingkungan Hidup, Wakil Sekretaris, hingga Wakil Ketua DPD Golkar Sumatera Utara di bawah kepemimpinan tiga ketua, yakni Ngogesa Sitepu, Ahmad Doli Kurnia, dan Musa Rajekshah. Dia juga tercatat sebagai salah satu lulusan terbaik Golkar Institute Angkatan I.

Pada Pemilihan Kepala Daerah 2020, koalisi Partai Golkar dan Partai Gerindra mengusung pasangan Dolly Pasaribu dan Rasyid Assaf Dongoran. Kemenangan tersebut mengantarkan Rasyid dilantik sebagai Wakil Bupati Tapanuli Selatan pada 26 Februari 2021.

Sebagai wakil bupati, Rasyid memilih banyak beraktivitas di lapangan. Pada Desember 2021, dia menghidupkan kembali tradisi Marsialap Ari, kegiatan gotong royong khas masyarakat Angkola-Mandailing yang berlandaskan filosofi Holong Mangalap Holong (kasih sayang yang saling memberi dan menerima) tanpa imbalan uang.

Melalui gerakan ini, pembenahan rumah warga tak layak huni dilakukan secara swadaya. Salah satunya rumah milik seorang janda berusia 67 tahun di Desa Kota Tua, Tantom Angkola, pada Januari 2023. Program pugar rumah ini berlanjut ke berbagai wilayah, seperti rumah ke-12 di Pargarutan pada Mei 2022, rumah ke-25 di Sumuran Baringin pada Januari 2024, hingga rumah ke-29 pada Februari 2024.

Rekam Jejak, Realitas Politik, dan Ketabahan

Kehadiran Rasyid di tengah masyarakat serta kerja-kerja politiknya di daerah tak luput dari perhatian DPP Partai Golkar. Melalui rangkaian rapat panjang, pertimbangan matang, serta penelitian rekam jejak (track record) yang dilakukan oleh DPP Partai Golkar, kerja keras dan lobi politik Rasyid membuahkan hasil.

DPP Partai Golkar menerbitkan Surat Perintah resmi yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, menunjuk Rasyid Assaf Dongoran sebagai Calon Tunggal Bupati Tapanuli Selatan.

Namun, panggung politik selalu punya potensi menyimpang dari garis lurus dan penuh hal tidak terduga. Bahkan SK Ketua Umum dan Sekjen DPP Golkar pun bukanlah barang haram untuk berubah dan diubah oleh sebuah konstelasi politik yang dinamis.

Memasuki perjalanan sekitar satu tahun kemudian, realitas politik bergerak dinamis menghadapi perhelatan Pilkada 2024. Gelanggang kompetisi menuntut daya tahan luar biasa, mulai dari tingginya kebutuhan finansial yang diperkirakan mencapai Rp 50 hingga 60 miliar, hingga sengkarut intrik politik internal maupun eksternal dengan beragam gerakan like and dislike.

Di tengah turbulensi dan pergeseran peta politik hingga jam-jam terakhir menjelang pendaftaran Pilkada 2024, Rasyid terlihat tabah, sabar, dan tidak pernah berkeluh kesah. Dia memandangnya dengan sudut pandang keimanan dan kedewasaan sikap.

Allah telah berikan jalan terbaik dan keputusan terbaik, termasuk keputusan DPP Golkar di jam-jam terakhir menjelang Pilkada 2024,” ujar Rasyid tenang.

Kendati dinamika politik berembus kencang, Rasyid tetap menuntaskan kewajibannya dalam birokrasi daerah. Pada 23 September 2024, dia resmi dilantik sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tapanuli Selatan oleh Penjabat Gubernur Sumatera Utara Agus Fatoni.

Pembangunan Infrastruktur Aek Bilah dan Saipar Dolok Hole Mengalami Peningkatan Signifikan

Perjalanan pembangunan infrastruktur di dua kecamatan, Aek Bilah dan Saipar Dolok Hole (SDH), menunjukkan perubahan yang sangat berarti dalam tiga tahun terakhir.

Pada tahun 2020, yang menjadi masa pemerintahan sebelumnya, alokasi anggaran masih sangat terbatas. Kecamatan Aek Bilah hanya mendapatkan sekitar Rp 2.000.000.000, sementara Saipar Dolok Hole sekitar Rp 4.000.000.000.

Memasuki tahun 2021, awal dari kepemimpinan baru, anggaran tersebut mulai meningkat. Aek Bilah dialokasikan sebesar Rp 4.025.095.649, dan Saipar Dolok Hole sebesar Rp 6.767.667.479. Pada tahun ini saja, peningkatan untuk Aek Bilah sudah lebih dari 100 persen.

Tren positif ini berlanjut di tahun 2022. Aek Bilah kembali naik menjadi Rp 7.711.402.169, dan Saipar Dolok Hole menjadi Rp 11.144.116.719. Jika dibandingkan dengan tahun 2020, anggaran Aek Bilah telah tumbuh hampir empat kali lipat, dan SDH hampir tiga kali lipat.

Puncaknya terjadi pada tahun 2023. Pada tahun ini, Aek Bilah mendapatkan pagu sebesar Rp 12.026.221.350. Sementara Saipar Dolok Hole mencatat lonjakan yang luar biasa, dengan pagu mencapai Rp 32.267.217.830.

Secara keseluruhan, dari total sekitar Rp 6 miliar di tahun 2020 untuk dua kecamatan, pada tahun 2023 totalnya telah menjadi Rp 44.293.439.180.

Artinya, dalam kurun waktu 2021 hingga 2023, Aek Bilah mengalami peningkatan total sebesar Rp 10 miliar lebih dari titik awalnya, atau naik lebih dari 500 persen. Sementara Saipar Dolok Hole mengalami peningkatan sebesar Rp 28 miliar lebih, atau naik lebih dari 700 persen.

Data ini menunjukkan bahwa pada masa Wakil Bupati Rasyid Assaf Dongoran, yang merupakan putra asli Aek Bilah dan SDH, alokasi pembangunan infrastruktur untuk tanah asal keluarganya meningkat secara drastis, jauh melampaui capaian pada masa pemerintahan sebelumnya.

Dari Belantara ke Meja Redaksi

Setelah menyelesaikan masa pengabdian di pemerintahan daerah dan tidak lagi berkontestasi dalam Pilkada 2024, Rasyid tak berhenti berkarya. Pada 28 Juli 2026, dia menandai babak baru dalam perjalanan hidupnya dengan mengumumkan kembali ke dunia jurnalistik dan media, mengemban amanah sebagai Direktur sekaligus Pemimpin Perusahaan (PT Sumut Karya Media) yang memiliki portal berita sumutnews.co. dan kembali ke Dunia Konservasi alam.

Kini, di usia 50 tahun, suami dari dokter spesialis paru Dr. Sri Rezeki Arbaningsih, Sp.P(K), dan ayah dari tiga anak ini tetap memegang teguh idealismenya. Dari laboratorium biologi USU, belantara Batang Toru, gerakan bedah rumah Marsialap Ari, hingga meja redaksi media, perjalanan Rasyid Assaf Dongoran menggambarkan sosok aktivis yang masuk ke arena politik demi memastikan kelestarian hutan dan kesejahteraan rakyatnya tetap terjaga, serta tetap tegar menyikapi pasang surut takdir politik.

Contoh Gambar di HTML

Pos terkait