Janji Sekolah Paket Tak Kunjung Jelas, Disdik Madina Bungkam soal Nasib 3 Anak Putus Sekolah

Kadis Pendidikan dan Sekretaris Pendidikan Madina saat mengunjungi keluarga dari 3 anak yang putus sekolah di Kelurahan Pidoli Dolok, fhoto : Wartamandailing.
Kadis Pendidikan dan Sekretaris Pendidikan Madina saat mengunjungi keluarga dari 3 anak yang putus sekolah di Kelurahan Pidoli Dolok, fhoto : Wartamandailing.

WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal — Janji Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) untuk membantu tiga anak putus sekolah di Kelurahan Pidoli Dolok mengikuti pendidikan kesetaraan hingga kini belum memiliki kejelasan.

Sebelumnya, setelah persoalan empat bersaudara, tiga di antaranya putus sekolah, viral dan menjadi sorotan publik, pihak Disdik Madina turun langsung ke kediaman keluarga tersebut.

Dalam kunjungan itu, Disdik menyatakan satu anak akan dimasukkan ke SD di Pidoli Dolok, sementara tiga saudaranya akan diarahkan mengikuti program pendidikan kesetaraan atau sekolah paket yang disesuaikan dengan usia masing-masing.

Pernyataan tersebut sempat memberikan harapan bahwa persoalan pendidikan yang dialami ketiga anak itu segera mendapatkan solusi.

Namun, setelah beberapa hari berlalu, realisasi dari janji tersebut belum mendapatkan kejelasan.

Untuk memastikan apakah janji tersebut telah ditindaklanjuti, awak media kembali meminta penjelasan kepada Disdik Madina pada Kamis (3/9/2026). Konfirmasi pertama disampaikan kepada Kabid Dikdas mengenai perkembangan penanganan ketiga anak tersebut.

Namun, Kabid Dikdas meminta wartawan untuk mengonfirmasi langsung kepada Sekretaris Dinas Pendidikan Madina.

Bacaan Lainnya

Wartawan kemudian menyampaikan pertanyaan yang sama kepada Sekretaris Dinas Pendidikan Madina. Pertanyaan yang diajukan adalah sejauh mana tindak lanjut terhadap ketiga anak tersebut dan apakah mereka sudah dimasukkan ke program pendidikan kesetaraan sebagaimana yang sebelumnya disampaikan Disdik.

Namun, hingga Jumat (4/9/2026), setelah menunggu selama dua hari, pertanyaan tersebut belum memperoleh jawaban.

Bukan Sekadar Soal Tiga Anak

Persoalan ini sejatinya bukan hanya menyangkut tiga anak di Kelurahan Pidoli Dolok. Lebih jauh, kasus tersebut menjadi gambaran bagaimana pemerintah daerah merespons persoalan anak putus sekolah yang membutuhkan tindakan nyata.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Madina menyampaikan data bahwa terdapat 1.370 anak yang tercatat putus sekolah di Kabupaten Mandailing Natal.

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat anak-anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan dan membutuhkan intervensi pemerintah.

Karena itu, ketika tindak lanjut terhadap tiga anak yang sudah menjadi perhatian publik saja belum memperoleh kejelasan, pertanyaan yang lebih besar pun muncul: bagaimana strategi dan keseriusan Disdik Madina menangani 1.370 anak lainnya yang tercatat putus sekolah?

Apakah mereka telah dipetakan satu per satu? Apakah sudah tersedia program konkret untuk mengembalikan mereka ke jalur pendidikan? Dan yang tidak kalah penting, berapa banyak dari anak-anak tersebut yang telah benar-benar kembali mendapatkan akses pendidikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban terbuka dari Disdik Madina.

Sebab, penanganan anak putus sekolah tidak cukup berhenti pada kunjungan, pendataan, ataupun pernyataan akan memberikan solusi. Masyarakat membutuhkan bukti bahwa setiap rencana dan janji benar-benar ditindaklanjuti.

Dalam kasus tiga anak di Kelurahan Pidoli Dolok, publik kini menunggu satu hal sederhana: kapan mereka benar-benar kembali memperoleh hak untuk mendapatkan pendidikan?

Hingga berita ini ditulis, Disdik Madina belum memberikan penjelasan resmi mengenai status ketiga anak tersebut maupun langkah konkret yang telah dilakukan untuk memasukkan mereka ke program pendidikan kesetaraan. (Has)

Contoh Gambar di HTML