WARTAMANDAILING.COM, Mandailing Natal — Harapan untuk kembali mengenyam pendidikan mulai terbuka bagi empat bersaudara dari keluarga kurang mampu yang sebelumnya harus kehilangan kesempatan belajar akibat keterbatasan ekonomi.
Dari empat anak tersebut, tiga di antaranya diketahui telah putus sekolah, sementara satu anak lainnya bahkan belum pernah merasakan bangku sekolah. Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal (Madina).
Kepala Dinas Pendidikan Madina, dr. MHD Faisal S, bersama jajaran turun langsung menindaklanjuti kondisi keluarga tersebut. Kedatangan mereka bukan sekadar melihat kondisi anak, tetapi juga memastikan adanya solusi agar anak-anak tersebut kembali mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan.
Faisal mengatakan, pendidikan merupakan hak setiap anak yang harus diperjuangkan bersama. Karena itu, pihaknya berupaya menjawab kebutuhan pendidikan keluarga tersebut sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
“Kedatangan kami hari ini untuk menindaklanjuti dan menjawab kebutuhan anak bangsa,” ujar Faisal kepada awak media, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, untuk salah seorang anak, pihak Dinas Pendidikan Madina telah menuntaskan kebutuhan awal agar anak tersebut dapat segera kembali bersekolah. Bantuan berupa perlengkapan sekolah diberikan sehingga tidak lagi menjadi hambatan bagi anak untuk memulai pendidikan.
“Untuk satu anak kita tuntaskan dan serahkan bantuan keperluan sekolah. Jadi besok anak ini akan masuk ke SD Negeri 111 Pidoli Dolok,” ungkapnya.
Sementara itu, terhadap tiga saudara lainnya yang sebelumnya putus sekolah, Dinas Pendidikan Madina akan mengupayakan agar mereka dapat kembali memperoleh pendidikan melalui program sekolah paket.
“Untuk ketiga saudaranya kita upayakan masuk sekolah paket dalam dua minggu ini,” katanya.
Langkah tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi keempat anak tersebut untuk kembali mengejar ketertinggalan pendidikan. Meski telah lama tidak bersekolah, kesempatan untuk belajar dan meraih cita-cita tetap terbuka.
Faisal juga mengingatkan bahwa upaya mengembalikan anak ke dunia pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dukungan keluarga, terutama orang tua, sangat dibutuhkan agar anak tetap memiliki semangat untuk belajar dan tidak kembali meninggalkan sekolah.
“Kita harus bersama-sama untuk mendorong dan mengawasi si anak dalam mengenyam pendidikan,” ujarnya.
Ia berharap orang tua terus memberikan motivasi kepada anak-anaknya. Menurutnya, keterbatasan ekonomi seharusnya tidak menjadi alasan bagi seorang anak untuk kehilangan masa depan.
Dengan adanya perhatian dan bantuan tersebut, setidaknya satu dari empat anak itu kini memiliki kesempatan untuk memulai kembali perjalanan pendidikannya. Seragam dan perlengkapan sekolah yang diberikan bukan sekadar bantuan berupa barang, tetapi menjadi simbol bahwa masih ada perhatian dan kepedulian terhadap masa depan mereka.
Bagi seorang anak, kembali mengenakan pakaian sekolah dan melangkahkan kaki menuju ruang kelas tentu menjadi sebuah harapan baru. Setelah sebelumnya harus berada di luar dunia pendidikan, kini kesempatan untuk duduk bersama teman-teman sebaya dan belajar kembali terbuka.
Sementara itu, Poso Yasri, orang tua dari keempat anak tersebut, menyampaikan rasa terima kasih kepada Kepala Dinas Pendidikan Madina beserta jajarannya yang telah datang langsung melihat kondisi keluarganya.
Ia mengaku bersyukur karena pemerintah memberikan perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya, terlebih bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi awal bagi mereka untuk kembali mengejar cita-cita.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kadis Pendidikan Madina dan jajaran yang telah menyempatkan diri datang dan memberikan bantuan perlengkapan sekolah kepada anak kami,” ujar Poso.
Ia berharap bantuan dan perhatian tersebut dapat memberikan semangat baru kepada anak-anaknya untuk kembali bersekolah dan menatap masa depan.
“Semoga ini menjadi langkah awal anak kami dalam menggapai cita-cita,” ucapnya.
Kisah empat bersaudara ini menjadi pengingat bahwa di balik keterbatasan ekonomi, masih ada anak-anak yang menyimpan cita-cita besar. Ketika kesempatan itu kembali diberikan, harapan mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik pun kembali tumbuh.
Kini, satu anak bersiap kembali mengenakan seragam dan masuk sekolah. Sementara tiga saudaranya masih menunggu proses untuk mendapatkan kesempatan pendidikan melalui sekolah paket.
Langkah kecil itu diharapkan menjadi awal dari perjalanan panjang mereka untuk kembali belajar, tumbuh, dan suatu hari nanti menggapai cita-cita yang selama ini mungkin hanya tersimpan dalam harapan (Has).

