WARTAMANDAILING.COM, Medan – Polemik terkait keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto terus bergulir. Menanggapi hal itu, Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) sekaligus politisi Partai Gerindra, Gus Irawan Pasaribu, mengajak pihak yang menilai program tersebut untuk langsung turun ke lapangan, bukan hanya berpendapat dari ibu kota.
Pernyataan itu disampaikan Gus Irawan kepada sejumlah wartawan usai mencoba fasilitas lapangan padel yang baru diluncurkan di Jalan Bunga Asoka, Medan, baru-baru ini.
Menurutnya, seruan untuk menghentikan program itu tidak berdasar jika tidak melihat langsung dampak yang dirasakan masyarakat di daerah.
“Mereka yang meminta penghentian MBG, tolong turunlah ke daerah, ke desa-desa. Lihatlah bagaimana manfaatnya bagi para siswa. Jangan hanya berteriak dari Jakarta. Di daerah seperti Tapsel, program ini sudah terasa manfaatnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, program MBG justru perlu diperluas jangkauannya hingga mencakup seluruh sekolah. Saat ini, baru sekitar 36.000 siswa dari target 100.000 orang di Tapsel yang sudah merasakan manfaatnya. Ketimpangan jangkauan ini dikhawatirkan akan menimbulkan kesenjangan baru saat tahun ajaran baru dimulai.
“Sudah ada laporan dari orang tua murid bahwa mereka lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah yang sudah menyediakan MBG. Jika ada sekolah yang belum mendapatkan program ini, dikhawatirkan akan kurang diminati. Saya pun akan menyampaikan hal ini kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar pemerataan segera dilakukan,” ujarnya.
Menurut Gus Irawan, MBG memiliki dua fungsi utama, yakni mengatasi masalah stunting dan mendorong pemerataan ekonomi yang berkeadilan. Ia menyebutkan bahwa gagasan ini bukan hal baru bagi Prabowo Subianto, karena sudah menjadi perhatian sejak lama.
“Sebelum menjadi Presiden, bahkan dalam perjalanan membangun Partai Gerindra, sudah ada tiga gerakan dasar yang menjadi cikal bakal program ini. Ada Revolusi Putih melalui pembagian susu dan makanan bergizi, Revolusi Merah untuk kesadaran donor darah, serta Revolusi Hijau untuk penghijauan,” jelasnya.
Secara ekonomi, Gus Irawan menilai kehadiran MBG justru menggerakkan perputaran uang di tingkat desa dan kecamatan. Ia mencontohkan, meskipun ada penghematan anggaran transfer pusat ke daerah sebesar Rp250 miliar tahun ini, namun alokasi dana APBN untuk MBG mencapai Rp400 miliar. Hal ini dinilai mampu menutupi kekurangan sekaligus menjadi pendorong perekonomian lokal.
Di Tapsel, program ini dikembangkan melalui pola kerja sama tripartit antara Baznas, lembaga yayasan pengelola, dan warga. Zakat produktif disalurkan kepada mustahik untuk bertani, beternak, atau membudidayakan tanaman, yang hasilnya kemudian dipasok ke dapur MBG. Diharapkan, pola ini bisa mengubah penerima zakat menjadi pembayar zakat yang mandiri secara ekonomi.
“Kami juga memanfaatkan lahan kosong yang luas untuk menanam tanaman bernilai ekonomi tinggi, serta mengembangkan usaha peternakan dan budi daya ikan. Misalnya di kawasan Batang Toru, kami dorong warga membangun kolam bundar untuk memproduksi ikan lele dan nila guna memenuhi kebutuhan dapur MBG. Targetnya, akan ada 1.000 unit kolam yang dibangun di wilayah ini,” paparnya. (r)






