WARTAMANDAILING.COM, Tapanuli Selatan – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) menggelar Sosialisasi dan Workshop Integrated Area Development (IAD) serta Peran Para Pihak, bertempat di Aula Sarasi Lantai III Kantor Bupati Tapanuli Selatan, Sipirok, Kamis (25/6/2026). Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Pesona Tropis Alam Indonesia (PETAI).
Tujuannya memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan dalam mengembangkan perhutanan sosial yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Tapsel H. Gus Irawan Pasaribu dan dihadiri Wakil Bupati H. Jafar Syahbuddin Ritonga, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Balai Perhutanan Sosial Medan, BBKSDA Sumut, pimpinan OPD, camat, kepala desa, kelompok tani, perguruan tinggi, perbankan, dunia usaha, serta organisasi masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati Gus Irawan menegaskan pembangunan daerah harus selaras dengan arah nasional menuju Indonesia Emas 2045, melalui transformasi ekonomi, peningkatan kualitas SDM, pengurangan kemiskinan, dan pembangunan berkelanjutan.
“Tapsel memiliki kekayaan alam, hutan, pertanian, dan pariwisata yang bernilai tinggi. Potensi ini harus dikelola secara optimal agar memberi manfaat nyata bagi warga,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perhutanan sosial bukan hanya soal menjaga hutan, tetapi juga harus menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pendekatan terpadu lewat konsep IAD menjadi sangat penting.
Gus juga menyebutkan dampak bencana hidrometeorologi akhir 2025 yang sempat menekan pertumbuhan ekonomi daerah dari di atas 5% menjadi hanya 2,49% pada kuartal akhir tahun itu.
Untuk mempercepat pemulihan, Pemkab Tapsel menggencarkan program pemberdayaan, antara lain pengembangan jagung, perikanan, peternakan, serta memaksimalkan KUR dengan bunga 0% hingga Rp100 juta bagi warga terdampak bencana.
“Kami jalankan tiga gerakan besar, yaitu perang melawan narkoba, perang melawan rentenir, dan perang melawan kemiskinan. Semua butuh kerja sama seluruh pihak,” tegasnya.
Ia juga mendorong optimalisasi 21 izin perhutanan sosial yang sudah ada di Tapsel, serta memanfaatkan ekosistem Batang Toru, termasuk peluang ekonomi karbon, agar memberi manfaat ekonomi dan ekologis sekaligus.
Sementara itu, Direktur Eksekutif PETAI, Masrizal Saraan, menyampaikan kegiatan ini menjadi langkah awal penyusunan kebijakan IAD di Tapsel, yang nantinya akan menjadi percontohan pertama di Sumatera Utara.
“Dari 210 izin perhutanan sosial di Sumut, 21 di antaranya ada di Tapsel. Lewat IAD, kami ingin memperkuat kelembagaan, membuka akses pasar, serta memudahkan akses pembiayaan bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia juga melaporkan dukungan restorasi lahan seluas 105 hektare di dua kelompok tani terdampak bencana, bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Balai Perhutanan Sosial Medan, Dinas LHK Provinsi Sumut, serta tenaga ahli IAD. Diharapkan hasilnya akan melahirkan kesepakatan bersama dan rekomendasi kebijakan yang mempercepat terwujudnya perhutanan sosial yang berkelanjutan dan menyejahterakan masyarakat Tapanuli Selatan. (Nas/r)






